Turbulensi Aneh pada Jakarta – Banda Aceh

Turbulensi Aneh pada Jakarta – Banda Aceh

Penyair kita sangat lihai menerbangkan perasaannya bersama pesawat udara,
lewat kata-kata yang melambai-lambai dari luar jendela

Di kursi dua puluh satu D dia bertanya apa,
Apa yang ingin dikatakan kata-kata pada suatu ketinggian yang diguncang kecemasan?
Cinta?

Tapi cinta tidak tepat diucapkan tanpa kepastian.

Penyair kita teringat kepada ibu Kenangan yang berkata jangan
pada Lupa yang mengajaknya ke ketiadaan
karena ada beberapa hal yang harus diwariskan pada anak-anak Perasaan
agar mereka belajar jadi dewasa dan tidak cepat suka pada kata-kata yang dapat membuat luka.

Goncangan pada tubuh udara meluruhkan keinginannya untuk menjauh dari keriuhan bumi,
Ada kehampaan udara atau gumpalan cumolonimbus yang menyapa
dan sekaligus menyentuh ketakutan tanpa berkata apa-apa

Tapi cinta tidak cepat dikatakan, bukan?

(STAR 1013. Banda Aceh, 21092017, 10.46)

Cinta Adalah Hembusan Kehidupan Sehingga Kita Mengenal Kekekalan-Nya dan Kematian Kita

Cinta Adalah Hembusan Kehidupan Sehingga Kita Mengenal Kekekalan-Nya dan Kematian Kita

:my future princess

Cinta adalah kosakata yang sering hilang dari kamus bahasa
Karena sering dipinjam orang untuk memberi definisi pada sesuatu yang ganjil di pikirannya, yang muskil diterjemahkan dengan kata-kata biasa

Orang-orang ramai memakai kata cinta untuk menyatakan perasaannya dengan arti yang berbeda-beda
Sehingga cinta dikembalikan kepada kamus bahasa setelah disempitkan maknanya.

Aku akan mengatakan cinta
pada kamu
Dengan cinta yang sudah menjadi udara
Yang perlu kamu hirup untuk hidup
Yang sudah terbebas dari ikatan bahasa

Maka bernafaslah dengan tenang
Karena cinta bisa dinyatakan dengan terang-terangan

(STAR 1012. Banda Aceh, 27082017, 23.30)

Dua Tujuh

Dua Tujuh

/1/Terkadang hujan datang
/2/berkunjung tapi penyair kita sedang menghilang
/3/dalam bayang-bayang hari yang mengiringi matahari ke ujung petang

***

/4/Wahai penyair kita,
/5/Awan lebih dahulu tahu cara melepaskan
/6/Dengan perlahan-lahan
/7/Sebelum tanganmu belajar menggenggam dengan lambat dan mengenal kehilangan yang sangat cepat

***

/8/Duhai penyiar kata,
/9/Terkadang hujan menyentuh bagian perasaan yang kita rahasiakan
/10/Seperti membasuh biji kering dalam tanah
/11/sehingga akan tumbuh akar, batang, daun, dan bunga sendiri
/12/kemudian berbuah matang untuk dimakan lain orang

/13/Tidak apa-apa
/14/Meskipun awalnya getir di pangkal takdir
/15/walaupun cinta menumbuhkan luka
/16/kemudian kata-k(i/a)ta menyembuhkan apa saja

***

/17/Terkadang hujan mengenal kita
/18/sebagai pasangan kata yang terkenal pada sebuah puisi lama
/19/yang suka berjalan-jalan di bawah rintik-rintiknya
/20/untuk menemukan titik-titik warna
/21/yang berbeda pada detik-detik makna yang menghabisi kita tanpa henti

***

/22/Wahai penyair kita
/23/Tak perlu berlari mencari warna-warni cinta ke ujung bumi
/24/Terkadang kita sedang berdiri sendirian
dan ada pelangi yang datang menghiasi kesepian langit hati

***

/25/Selamat berulang tahun, penyair muda!
/26/meskipun kemarin lupa
/27/dan tanpa ucapan puitis apa-apa, selalu ada kecupan manis pada bibir kata

(STAR 1010. Banda Aceh, 21082017, 20.20)

Hutan Lindung

Hutan Lindung

dan rinai hujan beramai-ramai mengunjungi hutan kepala perempuan yang lebat pekat melindungi kenangan
yang mudah basah dengan curahan perasaan…..

(STAR 1009. Banda Aceh, 05082017, 15.09)

Hanya Kata-Kata

Hanya Kata-Kata

hanya kata-kata yang tetap berucap cinta
dengan setianya
dengan manisnya
ketika tangan merasakan kehilangan
setelah meraba-raba dada dan menemukan terowongan duka
yang menganga seberapa lama

hanya kata-kata yang mungkin ingin menggenggam jemarimu
dengan hangat
dengan eratnya,
jemari yang dingin dan gemetar
karena kehilangan lingkaran takdir yang sedang berputar-putar sebentar
di tangan orang yang berlainan

hanya kata-kata yang kupunya
misalnya untuk menuliskan perihal kerinduan yang semakin mahal dijual
orang-orang yang tidak pernah mengenal kesepian

(STAR 1007. Banda Aceh, 31072017, 18.29)

Sebetapa Hebatnya Ibuku

Sebetapa Hebatnya Ibuku

Ibu bisa mendengar kabar kerinduanku dengan sabar, dengan membesarkan langkah kakiku yang belajar menjelajah jauh, dan pasti kembali setelah lelah mengarungi perasaan yang asing.

Ibu bisa membisikkan doa dengan baik di antara suara-suara yang berisik mengusik perjalananku, sehingga doanya dipetik awan dan putik-putik hujan berjatuhan, memberi berkah pada langkah tujuanku.

Ibu bisa menemukan berbagai jawaban sebelum mulai mengajukan pertanyaan-pertanyaan tentang sunyi percakapanku, seperti hidangan makan malam yang diam-diam disiapkannya sebelum perutku berbunyi.

(STAR 1006. Banda Aceh, 27072017, 22.51)

Ah, Alangkah

Ah, Alangkah

:Ibu

Alangkah betahnya kata-kata itu tinggal di rumahmu, bisa berteduh dari jenuh perasaan, dapat bersembunyi dari sunyi percakapan.

Kata-kata adalah puisi yang tiba-tiba menerangi, adalah sajak yang seketika mengajakku mengunjungi.

Ah, alangkah rindunya aku padamu.

(STAR 1005. Banda Aceh, 27072017, 22.07)

Selalu Ada Kita Pada Segalanya Cinta

Selalu Ada Kita Pada Segalanya Cinta

Selalu ada gerimis dan hujan yang turun dari ketinggian
karena panggilan suara perempuan yang menangis perlahan-lahan
setelah ia terjatuh sesudah tangannya melepaskan tali-tali pengharapan
yang merapuh dari ikatan perasaannya

Awan bisa melekaskan kepergian hujan
supaya mendung segera berlalu
supaya langit kembali biru
dan hati perempuan tak berwarna kelabu

Selalu ada kata-kata yang kutuliskan tentang perempuan dan hujan
tentang persahabatan dan perasaan
karena segalanya bermula dari kita
yang kemudian menemukan warna yang berbeda pada cinta.

(STAR 1004. Banda Aceh, 14072017, 19.03)