Month: October 2009

AKU DAN WAKTU

AKU DAN WAKTU

Aku
Berpijak dalam putaran waktu
Larut dalam irama waktu

Aku
Berlayar dalam bahtera waktu
Mengarungi samudra waktu
Melawan gejolak arus waktu

Aku
Berlabuh di penghulu waktu
Memikul beban waktu
Mengabai desahan waktu

Aku
Mencari serpihan waktu
Mengukir jejak waktu
Menjelajah rimba waktu

Aku
Memeluk kehangatan waktu
Mencengkram pecahan waktu
Merangkul leburan waktu

( STAR 60. Yagmur Home, 15102009, 22.29 )

PAGI…

PAGI…

Ketika mata menyambut cahaya mentari
Kita ada dalam lingkaran mimpi
Berlilit pada hembusan sepi
Berputar menyusuri takdir Ilahi

Ketika telinga mendengar kicauan pagi
Kita masih dalam ayunan mimpi
Mendengkur keluh meratapi hari
Berbisik kemelut tiada henti

Ketika hidung meresapi udara pagi
Kita masih mengendus wangi mimpi
Bernyanyi bersama hembusan benci
Membiarkan sepi merasuki hati

( STAR 59. Middle East Technical University, 12102009, 14.34 )

Talking Mind’s September ’09 (Part 2)

Talking Mind’s September ’09 (Part 2)

………………………………………………………………….

Keluarga. Dulu, kau mendefinisikan keluarga dalam arti yang sempit. Terdiri dari Bapak, Ibunda, Bang Di, kau, Dek Yi, Aci, Nelly dan ditambah Misyik, Mami, Abu dan Cek Bit. Merekalah keluargamu. Tapi, kau menemukan keluarga lain disini. Sebuah keluarga yang nama-nama anggotanya tak mampu kau sebut satu persatu. Keluarga besar yang saling bahu membahu membantu satu sama lain di jalanNYA. Dan kau telah menjadi bagian dari mereka.

Hari itu, di lembaran ketigabelas, seorang anggota keluarga mengajak kalian ke sebuah toko baju. Beliau menyuruh kalian memilih baju, sepatu, celana, dll sesuka hati kalian. Subhanallah, kau tak mampu berkata apa-apa selain Alhamdulillah dan terima kasih. Beliau mengingatkanmu kepada seseorang yang kau panggil Bapak. Seorang Bapak yang sedang membelikan baju baru untuk putra tercintanya. Kau mendapati raut bahagia di mukanya ketika satu kemeja lengan panjang beserta kaos dan celana panjang sudah berpindah ke tanganmu. Beliau adalah salah satu Ayahanda kalian disini.

Masih tentang keluarga. Pada lembaran terakhir Bulan Suci Ramadhan, seorang Abang mengajak kau dan seorang temanmu kembali ke Istanbul selama beberapa hari. Kau diajak merayakan Hari Raya Idul Fitri bersama keluarganya disana. Hari Raya pertama di negeri asing tapi tidak asing karena kau berada di tengah-tengah sebuah keluarga. Keluarga yang menjadikan kau sebagai seorang raja di rumah mereka. Keluarga yang menyayangimu sebagai bagian dari mereka. Masih melekat di hatimu kata-kata dari mulut seorang Ibu di rumah itu. “Saya adalah ibu keduamu, sekarang ibu kalian ada dua, satu di Aceh dan satu lagi disini”. Saat itu, kau sangat bahagia dan tersenyum melihat ketulusannya. Sayangnya, Bahasa Turkimu masih terbata-bata, kau belum mampu berbicara banyak dengannya, tapi kau bisa merasakan cinta dari seorang ibu selama disana.

Esok harinya, M**mut ab*, orang yang sudah kau anggap sebagai Abangmu sendiri, mengajak kalian jalan-jalan sore di pinggiran laut Kota Istanbul. Kau mengagumi keindahan karyaNYA. Langit biru memayungi lautan biru. Ombak-ombak bergulung membawa pikiranmu ke suatu tanah yang dikelilingi laut serta samudra biru. Kau ingin berlama-lama di sana karena kau merasa semakin dekat dengan tanah kelahiranmu. Sore itu, kau sampaikan salam rindu kepada Ibunda dan Ayahandamu melalui laut biru.

Kejutan. Di lembaran keduapuluhdua, “orang tua kedua”-mu mengajak kalian jalan-jalan menelusuri jalan raya Istanbul dengan mobil pick-up besarnya. Mereka memberi kejutan di Çetinkaya, sebuah Mall. Lagi, kamu terkejut dengan kebaikan mereka yang tak sanggup kamu balas. Mereka membelikanmu sebuah Jacket Musim Dingin tebal yang mahal, Sepatu Bot untuk Musim Dingin, sebuah Sweater Biru kesukaanmu, dan beberapa pasang kaus kaki. Kau tak bisa menolak dan hanya mampu berkata : “Allah Razi Olsun, kesene bereket”. Hari itu, beliau juga menggoreng ikan untuk kalian, karena mereka ingin kalian merasakan “rumah” di rumahnya. Kau terharu dengan kebaikan mereka.

Kau betah di sana. Tapi kau harus kembali ke jembatan impianmu di kota Ankara. Tepat di malam lembaran dua puluh lima, kau terpaksa mengucapkan kata selamat tinggal kepada mereka. Malam itu, kau meninggalkan sebuah rumah mewah berfasilitas WiFi, berlantai tiga, memiliki kebun luas yang dipenuhi bermacam-macam sayur serta buah. Rumah yang telah menjamu kalian dengan kehangatan dan kebaikan sebuah keluarga. Kau sangat bersyukur dan berjanji untuk tidak melupakannya.

Esok harinya, kau tiba di Ankara. Setelah beristirahat selama beberapa jam, kau harus pergi ke kampus untuk mendaftarkan mata kuliah yang kau ambil untuk semester perdanamu dan mendapatkan “approval” dari advisor-mu. Bingung. Kau masih bingung dengan sistem kuliah yang aneh dan baru bagimu. Lagi, M**mut ab* membantumu pada hari itu….

Rumah baru. Akhirnya, kau ditempatkan di rumah yang tetap untuk setahun yang akan datang. Di lembaran dua puluh tujuh, kau mengakhiri masa-masa “nomaden”-mu. Kau tinggal di sebuah rumah yang bernama “Yağmur Evi” (Rumah Hujan) bersama 4 mahasiswa lainnya. Alhamdulillah, salah satu dari mereka adalah rekan sebangsamu. Namanya H**i ab*, abang letingmu yang banyak membantumu di kehidupan barumu sebagai anggota rumah yang dituntut untuk mandiri.

Hari itu, tiga hari terakhir lembaran September, 28. Hari pertama kau kuliah sebagai seorang MAHASISWA internasional di Middle East Technical University, jurusan Biologi. Sebelum jam 7.30 pagi, kau dan belasan mahasiswa asal Indonesia lainnya telah berbaris rapi dalam satu antrian panjang di depan pagar sebuah sekolah, dekat durak (halte bus). Kau menunggu kedatangan Bus Service 423 yang akan mengantarkan kalian ke kampus. Ya, kampus. Sepertinya kau harus terbiasa dengan kehidupan kampus. Kau harus bisa bertahan. Dan September pun berlalu, meninggalkan kau yang sedang memasuki rimba baru !!

Talking Mind’s September ’09 (Part 1)

Talking Mind’s September ’09 (Part 1)

Awal September, Sang Surya masih bersedia membagi kehangatannya. Bayu pun mulai sering menyentuh dedaunan maple yang melambai-lambai dalam barisan pepehonan sepanjang jalan di Kizilay, pusat kota Ankara. Kau terlihat acuh dengan keramaian manusia asing yang memenuhi ruas jalan ibu kota. Ya, mereka orang asing bagimu seperti mereka menyebutmu “YABANCI” (orang asing). Kau semakin terbiasa bertatap muka, berbicara, atau sekadar menyapa “bule-bule” negara ini. Bahkan, kau tinggal serumah dengan mereka yang pernah kau anggap asing dulu, yang telah menjadi saudaramu kini.

Awal September, beberapa helai dedaunan telah gugur di bawah sinar mentari pagi. Menandakan kedatangan musim gugur, yang telah lama kau nanti-nantikan. Kau hanya ingin melihat dedaunan maple berguguran bersama bayangan dia, yang telah kau kecewakan dengan pseudolove-mu dulu. Berharap ia tak kan bersemi lagi di hatimu. Karena kau belum bisa mendefinisikan arti suka ataupun cinta. Semuanya adalah racun yang hampir mematikan persahabatan kalian.

Persahabatan. Kau sangat takut kehilangan Sahabat seperti siang yang takut kehilangan matahari. Lembaran keenam adalah hari spesial yang kau nanti-nantikan. Tepat 18 tahun yang lalu, seorang sahabat yang baru kau kenal 5 tahun silam dilahirkan ke dunia ini. Ia telah banyak menggetarkan hatimu, tetapi kau tidak ingin menodai persahabatan itu. Kau ingin persahabatn itu abadi supaya tak ada yang hilang. Kau berusaha menahan setiap harapan yang sering muncul dalam bingkai persahabatan itu. Biarlah waktu yang menjawab semuanya karena ia akan mengalir sesuai takdir yang telah ditulis oleh Yang Maha Mengetahui.

Di lembaran kedelapan September, perang pertamamu dimulai. Sebuah perang kecil ketika kau sedang berperang dengan sengit dalam perang terbesar melawan hawa nafsu, dahaga dan kelaparan selama berpuasa di bulan suci nan penuh berkah, Bulan Ramadhan. Ya, itu adalah puasa perdanamu di negeri asing atau di perantauan, jauh dari rumah beserta keluargamu.

Perang kecil itu adalah English Proficiency Exam. Sebuah ujian yang menentukan satu tahun ke depan, kelas persiapan Bahasa Inggris atau mulai kuliah sebagai seorang mahasiswa !! Ujiannya 2 tahap, hari pertama kau dituntut menjawab 40 soal Grammar dan 30 soal Reading. Alhamdulillah, kau bisa menaklukkannya dengan nilai yang pas-pasan. Di hari kedua, kau harus berhadapan dengan soal-soal Listening, Note Taking dan Writing yang tergolong sulit. Alhamdulillah, kau kembali mengucapkan syukur kepadaNYA, kau berhasil lulus ujian tersebut dengan nilai 65.
Ramadhan. Kau berusaha mengisi lembaran suci bulan mulia itu dengan syukur. Ya, syukur walaupun hidangan berbuka berbeda 180 derajat dengan yang di rumah. Syukur walaupun Shalat Tarawih agak berbeda dan mulai jam 11 malam. Syukur walaupun tak dapat makan daging bersama-sama dengan keluarga di Hari Meugang. Syukur. Tetap bersyukur karena kau telah diberi kesempatan untuk merasakan keagungan Ramadhan.

…………………………………………………
Bersambung ke Part 2 >>>>>> ❗