Month: November 2010

Cerita Pohon

Cerita Pohon

Platanus orientalis merenggangkan dahan-dahannya
yang kian bersedih atas keguguran
Daun-daun menguning

Katanya : angin musim gugur itu jahat
Ia membuat dedaunanku diinjak-injak
dan membusuk

Ujarnya : tapi Sang Pengirim angin itu Maha Baik
Dia menjadikan dedaunanku subur ketika membusuk
Hingga akar-akarku bisa menyantap sari-sarinya

Ia menatapku
yang sedang duduk menunggu
“Yang kita cintai datang dan pergi
Suatu saat ia akan bersemi kembali”

(STAR 119. Durak 198 Kizilay, 30112010, 07.35)

Untuk Abangku

Untuk Abangku

Aku iri padamu
atas segala kelebihanmu
atas semua kelelahanmu
atas setiap kasih sayangmu

Tapi
Hatiku tak bisa berdusta
Kalau ia juga rindu kepadamu

*semoga kau baik-baik saja di Brunei Darussalam*

(STAR 118. Zafer Evi, 28112010, 11.05)

Çiçek

Çiçek

Ia sangat-sangat cantik, Bu
Aku ingin mengirimmu setangkai
Tapi ia akan layu

Tunggulah, Bu
Suatu hari aku akan membawa setangkai
Ia tak kan layu
Ia adalah bidadari hatiku

(STAR 117. Zafer Evi, 28112010, 10.54)

Çiçek

Çiçek

Ia sangat-sangat cantik, Bu
Aku ingin mengirimmu setangkai
Tapi ia akan layu

Tunggulah, Bu
Suatu hari aku akan membawa setangkai
Ia tak kan layu
Ia adalah bidadari hatiku

(STAR 117. Zafer Evi, 28112010, 10.54)

Andai

Andai

Andai aku bisa berandai-andai
punya sepasang sayap
punya sebuah pintu ajaib Doraemon
punya baling-baling bambu

Maka aku sudah berada di sana,
Di depan jendela kamarmu
Melepas senyummu yang terlukis di dinding hatiku
Agar ia menghiasi wajah murungmu

(STAR 116. Zafer Evi, 28112010, 10.40)

Untuk Cananga odorata

Untuk Cananga odorata

Kau harus tegar
Seperti Platanus orientalis
yang tak pernah meratapi keguguran daunnya

Kau harus kuat
Seperti karang di pinggir lautan
yang tak pernah takluk kepada deburan ombak

Maka
Simpanlah air mata
Karena ia sangat berharga
Jangan kau tumpahkan
Karena Platanus orientalis dan karang hendak mencuri air matamu….

(STAR 115. Zafer Evi, 28112010, 10.22)

Untuk Cananga odorata

Untuk Cananga odorata

Kau harus tegar
Seperti Platanus orientalis
yang tak pernah meratapi keguguran daunnya

Kau harus kuat
Seperti karang di pinggir lautan
yang tak pernah takluk kepada deburan ombak

Maka
Simpanlah air mata
Karena ia sangat berharga
Jangan kau tumpahkan
Karena Platanus orientalis dan karang hendak mencuri air matamu….

(STAR 115. Zafer Evi, 28112010, 10.22)

Bunuh Aku !

Bunuh Aku !

Kau datang membawa senyuman
serta sepotong harapan
Ketika derai-derai hujan
Berhenti membasuh penyesalan

Aku bertanya, heran
Ada apa gerangan
Kau selalu datang, mengulur tangan

Padahal ketika rinai-rinai
masih berderai
Aku telah memenggal kepalamu
Aku telah membunuhmu

Aku pembunuhmu
Sadarku hilang dalam uluran tanganmu
Aku membiarkanmu tergeletak dalam basahan
rinai-rinai penyesalan

Lihatlah
Jejak-jejakku masih basah
Pisau itu pun masih berdarah
Tak mampu kuhilangkan
Seperti hilangnya harapan-harapan

Tapi
Kau masih menghampiri diri ini
Kenapa??

Maka mendekatlah kesini
Bunuhlah aku
Dengan pisau itu
Dengan tanganmu
Dengan apa saja
Aku tak peduli
Aku hanya mau mati

Kau berhenti
Jarak kita hanya beberapa senti
Aku telah lelah, pasrah
Maka bunuhlah aku !

Kau pun berkata :
“aku benci kamu
aku muak dengan kelalaianmu
aku mau membunuhmu”

Aku memejamkan mata
Maut bersiap-siap merenggut nyawa

“Tapi aku tidak bisa membunuhmu
Tuhanmu menyuruhku
untuk memberimu sepotong kesempatan
dan sejuta harapan”

Air mataku berderai
menjadi rinai-rinai

“Bangkitlah
Terimalah uluran tanganku
Terserah
Jika kau membunuhku lagi”

Tapi
Kenapa, kenapa ??

“Karena Dia sangat mencintaimu”

*untuk si WAKTU yang kubunuh*.

(STAR 113. Zafer Evi, 25112010, 14.57)

Bunuh Aku !

Bunuh Aku !

Kau datang membawa senyuman
serta sepotong harapan
Ketika derai-derai hujan
Berhenti membasuh penyesalan

Aku bertanya, heran
Ada apa gerangan
Kau selalu datang, mengulur tangan

Padahal ketika rinai-rinai
masih berderai
Aku telah memenggal kepalamu
Aku telah membunuhmu

Aku pembunuhmu
Sadarku hilang dalam uluran tanganmu
Aku membiarkanmu tergeletak dalam basahan
rinai-rinai penyesalan

Lihatlah
Jejak-jejakku masih basah
Pisau itu pun masih berdarah
Tak mampu kuhilangkan
Seperti hilangnya harapan-harapan

Tapi
Kau masih menghampiri diri ini
Kenapa??

Maka mendekatlah kesini
Bunuhlah aku
Dengan pisau itu
Dengan tanganmu
Dengan apa saja
Aku tak peduli
Aku hanya mau mati

Kau berhenti
Jarak kita hanya beberapa senti
Aku telah lelah, pasrah
Maka bunuhlah aku !

Kau pun berkata :
“aku benci kamu
aku muak dengan kelalaianmu
aku mau membunuhmu”

Aku memejamkan mata
Maut bersiap-siap merenggut nyawa

“Tapi aku tidak bisa membunuhmu
Tuhanmu menyuruhku
untuk memberimu sepotong kesempatan
dan sejuta harapan”

Air mataku berderai
menjadi rinai-rinai

“Bangkitlah
Terimalah uluran tanganku
Terserah
Jika kau membunuhku lagi”

Tapi
Kenapa, kenapa ??

“Karena Dia sangat mencintaimu”

*untuk si WAKTU yang kubunuh*.

(STAR 113. Zafer Evi, 25112010, 14.57)