Month: February 2011

Dia dan Rasa

Dia dan Rasa

Dia lelaki yang aneh. Sangat aneh. Dia selalu menulis kata-kata yang muncul dari pikirannya di lembaran hariannya. Dia berharap kata-kata itu keluar dari lubuk hatinya yang paling dalam dan langsung membenarkannya tanpa perlu memikir ulang. Dia sangat yakin ketika merangkai kata-kata seolah-olah mereka adalah kenyataan dan tidak akan pernah mendustakannya. Dia menyebut mereka “Kenangan” setelah dituliskan.

Dia tidak pernah menghiraukan perasaan yang kadang-kadang menipunya. Baginya, perasaan itu ibarat gelas kosong yang diisi oleh kerinduan, kesedihan, kesenangan, dan mungkin cinta. Semua bercampur memenuhinya hingga tumpah dalam kata-kata. Dia hanya meneguknya sebentar tanpa mengecap kebenaran rasa. Karena itu “gelas” tidak pernah penuh. Dia meneguk beberapa tetes dan “gelas” itu terisi lagi oleh rasa yang persis sama. Ya, dia aneh karena meneguk rasa-rasa yang sama setiap waktu, tidak bisa membedakannya.

Barangkali dia sedang mabuk karena selalu meneguk isi “gelas” itu. Setiap hari ia melihat “gelas” penuh, tak pernah sekalipun kosong. Dia heran dan bertambah aneh karena tidak pernah bertanya dari mana datangnya isi “gelas” itu? Mungkin dia akan terus meneguknya tanpa bertanya sampai senja usianya.

Dia lelaki yang aneh. Sangat aneh. Dia selalu menulis kata-kata yang muncul dari pikirannya di lembaran hariannya. Hari ini dia menulis tentang kekhawatiran yang telah tumpah dari “gelas” perasaannya sejak tadi pagi. Dia tidak sanggup meneguknya. Terlalu banyak hingga tumpah membasahi kedua matanya. Dia membiarkan mereka menjelma menjadi kata-kata yang akan dibaca oleh seseorang.

Dia berharap agar ayat-ayat cinta dari Qalbu Al Qur’an mampu meneguk kekhawatirannya sebelum mereka membanjiri relung hati. Dia bermunajat untuk kesembuhan seseorang walaupun ia gagal bangkit dari kubangan dosa. Dia akan terus mengetuk pintu KemurahanNYA. Semoga kekhawatirannya yang berlebihan itu lenyap walaupun selalu mengisi “gelas” perasaannya.

(Biru 2. Yağmur Evi, 22022011, 14.24)

Titah

Titah

Dengan membaca basmallah
Dia mulai berkisah
Dimulai dari kata alkisah
Diakhiri dengan Alhamdulillah

Alkisah
Di negeri antah berantah
Baginda raja akan bertitah
Dengan raut muka gundah

Sang Ratupun terlihat gelisah
Kedua pipinya basah
Kedua matanya merah
Duduk di samping Baginda dengan resah

Rakyat jelata sangat gerah
Tertunduk menyembunyikan amarah
Menampakkan wajah-wajah cerah
Walaupun Baginda belum juga bertitah

Diam-diam matahari melangkah
Turun lebih rendah
Lalu membawa pergi cerah
Tiada yang berani mencegah

Tidak boleh ada suara yang pecah
Sebelum Baginda bertitah
Anginpun diam dalam nafas-nafas lelah
Hening telah menguasai Negeri Antah Berantah

Tiba-tiba Baginda mulai bertitah
Mulutnya mengeluarkan kata-kata beberapa patah
Dimulai dengan Alhamdulillah
Diakhiri dengan Alkisah

(STAR 132. Yağmur Evi, 21022011, 20.25)

Titah

Titah

Dengan membaca basmallah
Dia mulai berkisah
Dimulai dari kata alkisah
Diakhiri dengan Alhamdulillah

Alkisah
Di negeri antah berantah
Baginda raja akan bertitah
Dengan raut muka gundah

Sang Ratupun terlihat gelisah
Kedua pipinya basah
Kedua matanya merah
Duduk di samping Baginda dengan resah

Rakyat jelata sangat gerah
Tertunduk menyembunyikan amarah
Menampakkan wajah-wajah cerah
Walaupun Baginda belum juga bertitah

Diam-diam matahari melangkah
Turun lebih rendah
Lalu membawa pergi cerah
Tiada yang berani mencegah

Tidak boleh ada suara yang pecah
Sebelum Baginda bertitah
Anginpun diam dalam nafas-nafas lelah
Hening telah menguasai Negeri Antah Berantah

Tiba-tiba Baginda mulai bertitah
Mulutnya mengeluarkan kata-kata beberapa patah
Dimulai dengan Alhamdulillah
Diakhiri dengan Alkisah

(STAR 132. Yağmur Evi, 21022011, 20.25)

Biar

Biar

Biar
Biarkan saja
Kumbang-kumbang menari di depannya
Jangan gusar

Biar
Biarkan saja
Kumbang-kumbang bersenandung di dekatnya
Jangan gempar

Biar
Biarkan saja
Kumbang-kumbang hinggap di mahkotanya
Jangan gentar

Biar
Biarkan saja
Kumbang-kumbang menghisap madu cintanya
Jangan gemetar

(STAR 129. Atlas, 19022011, 23.06)

Jembatan

Jembatan

Aku : “Perlukah aku membangun sebuah jembatan di antara dua hati kita?

Kamu : “Untuk apa?”

Aku : “Supaya hatiku bisa mengunjungi hatimu setiap waktu”.

Kamu : “Kenapa?”

Aku : “Karena aku ingin menyiram pepohonan rindu setiap pagi, menaungi rimbunan asa ketika sinar matahari menyengat, dan menyalakan cahaya cinta setiap senja”.

Kamu : ” ^__^ ”

(SeuLanga 20. Yağmur Evi, 19022011, 18.23)