Suara

Suara

Hanya syukur yang terucap kala aku meneguk rindu tadi pagi. Kau tahu, tetes-tetes rinduku memenuhi cawan rindumu. Atau cawan rinduku selalu kau isi dengan rindumu. Entahlah, cawan itu selalu penuh. Tak pernah habis kuteguk.

Ada tanya dari kata-katamu. Masihkah ada sisa rindu yang tersisa dari tadi pagi? Entahlah. Aku telah meneguk habis. Tapi aku yakin kalau ia akan segera terisi lagi. Karena rinduku selalu mengalir di lembah hati.

Mungkin kau akan bertanya. Bagaimana kuteguk rindumu tadi pagi? Entahlah. Aku meneguknya lewat suara lembutmu. Ya, suaramu mengalir tenang ke dalam hati. Membawa banyak pesan dan harapan setelah restu dan munajat abadimu.

Ibu, suaramu meneguk rinduku…….

(SeuLanga 23. Yağmur Evi, 02042011, 20.55)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *