Month: July 2011

Sebuah Kalimat Pertama Menjadi yang Terakhir

Sebuah Kalimat Pertama Menjadi yang Terakhir

“Langit kelam dan suara kami bungkam.” Hanya satu kalimat ini yang bisa kutulis ketika mengisahkan cerita tentang aku dan dia. Kamu pasti tidak akan percaya kalau aku mencoret-coret langit dengan namanya sehingga tinta penaku habis. Aku memilih melakukan itu daripada menyambung kalimat pertama di atas.

Percayalah, aku adalah jagoan dalam urusan menulis. Tetapi aku rela menjadi pengecut gara-gara kalimat itu tidak pernah rampung kutulis menjadi sebuah cerita tentang aku dan dia.

Oh iya, kamu pasti penasaran kenapa kalimat yang tertata dengan kata-kata biasa itu dapat menggigilkan jemariku? Kenapa tidak pernah aku rampungkan? Ahh, jawabannya sangat sederhana, Kawan. “Aku dan dia belum memulai sebuah kisah karena malam itu suara kami bungkam.”

(CerMin 9. Eskişehir, 29072011, 19.45)

300 Sajak

300 Sajak

/1/
Kelahiran sajak ketigaratus
dirayakan ibunda jemari
dalam pesta imaji

Tegap berdiri
barisan kata telah berjanji
menjadi lelaki sejati

/2/
Pesta dimulai
kata-kata menari
menyuguhkan makna:

“Remah-remah huruf telah bersatu,
padu dalam kata,
menyalakan ragam makna”

/3/
Pesta belum usai
kata-kata masih berbaris rapi
sebagian menari-nari
dalam bait-bait sajak

/4/
“300 sajak telah lahir
dan berpesta tanpa akhir”

(STAR 300. Eskişehir, 29072011, 18.49)

Suguhan Jeda

Suguhan Jeda

hinggaplah di reranting kataku
wahai burung dara
kusuguhkan jeda yang bermakna

bait-bait sajak sederhanaku
meneduhkan matamu
yang lelah membaca lembaran rasa

kata-kataku tidak akan menjerat keanggunanmu
juga terlalu ranum untuk kupetik senyum manismu
maka nikmatilah suguhan jedaku sebelum meniti jalan pulang

(STAR 299. Eskişehir, 29072011, 18.25)

Jalinan Kita

Jalinan Kita

Ran, masih tersimpan sejuta rahasia di kedalaman makna sebuah kata. Tak mampu terbaca oleh mata.

Ran, masihkah embun-embun makna menyejuki dedaunan pohon kata di berandamu? Walaupun hanya sebentar? Percayalah, yang tumpah ruah dari kelopak matamu adalah embun-embun itu.

Ran, sebuah kata itu adalah “kita” yang telah ditulis di lembar-lembar kitab induk yang nyata. Sebuah pertemuan dan juga sebuah perpisahan yang telah dan akan memekarkan makna persahabatan. Maka, berbagilah dalam jalinan “kita”, suka maupun duka, untuk menyalakan lentera kata di lorong-lorong kelam kehidupan fana.

(SeuLanga 41. Eskişehir, 29072011, 10.38)

Kepergian Kupu-Kupu Bukan Kehilangan Hati

Kepergian Kupu-Kupu Bukan Kehilangan Hati

: my relationship girl (sahabat sejati) yang melepaskan kupu-kupunya.

Telah kubiarkan kau terbang dari taman hatiku,
Kupu-kupu.

***

kepakan sayapmu menderu jauh
tetapi remah-remah katamu tersisa
terlalu rapuh
untuk memekarkan makna cinta di ladang jiwa

***

Telah kubiarkan kau terbang dari taman hatiku,
Kupu-kupu.

***

“tidak ada kehilangan
yang ada hanya kepergian”
dan
janjimu membusuk dalam harapan

***

Telah kubiarkan kau terbang dari taman hatiku,
Kupu-kupu.

***

dalam kepergianmu
hati mengalunkan ombak-ombak kata
ke tepian, di mana namamu
dulu ku ukir di atas pasir yang basah oleh makna rasa suka,
dan diam-diam riak menghapusnya

***

Telah kubiarkan kau terbang dari taman hatiku,
Kupu-kupu.

(STAR 297. Eskişehir, 28072011, 13.10)

Pagi yang Berdebar

Pagi yang Berdebar

Ran, pagi yang hening tidak bisa memendam debaran ombak yang meriakkan rindu ke tepian pantai sajakku. Selalu ada namamu yang mengalunkan makna dari kata-kata yang terangkai, mempuisikan debar-debar rindu.

Ran, debaran ombak itu tidak mampu berlabuh ke tepian sebelum angin kesetiaan berhembus dari lembah hati kita. Aku tidak pernah menyangka kalau angin itu singgah di dahan pepohonan katamu sebelum meriakkan rindu di pantai sajakku.

Ran, sungguh pagi di sini berdebar. Embun-embun juga bergetar setelah membisikkan kata perpisahan kepada dedaunan yang menggigil kesejukan. Dan kata-kata tetap mendebarkan makna: “sebuah kebersamaan.”

(SeuLanga 40. Eskişehir, 27072011, 12.18)

Undang-Undang Bukan Tuhan

Undang-Undang Bukan Tuhan

berpasal-pasal kata
dipintal oleh tangan-tangan
Tuan dan Puan penguasa
menjadi seutas tali penjerat leher-leher Kemiskinan
sehingga yang tetap hidup adalah Kekayaan

***

oh Tuan,
undang-undang bukan Tuhan
kami, hanya berupa tulisan
yang kehilangan
ruhnya setelah meneriakkan:
“Fakir miskin dan anak-anak terlantar dipelihara oleh negara”

***

oh Puan,
kami tidak menyembah tulisan
berayat-ayat memakmurkan rakyat dalam angan
karena ia bukan Tuhan

(STAR 296. Eskişehir, 26072011, 16.59)