Princess Nelly

Princess Nelly

Dua tahun lima bulan tak bersua. Juga tak bertutur sapa. Jarak memang tak pernah lelah memisahkan raga kami. Tetapi jiwaku masih menumbuhkan namanya di suatu ladang berisi cinta. Ya, saya sangat mencintainya.

Ia adalah Putri Malu. Tidak berani bicara dengan abangnya di telepon. Bersembunyi dan dengan langkah-langkah malunya menyambut abangnya yang baru pulang untuk liburan, enam bulan sekali.

Ia adalah Putri Bungsu. Satu-satunya tuan putri di keluarga. Yang dilindungi oleh empat pengawal setianya: abang-abang tercinta. Yang dikasihi “Raja” dan “Ratu”.

Ia adalah Putri Nelly. Adik tercinta kami. Senantiasa menyalakan ceria di rumah sederhana kami. Tidak pernah lupa berceloteh manja.

Saya merindukannya. Ia bersama abang setianya, Aci, mengisi kekosongan yang kami tinggalkan untuk Ayahanda dan Ibunda tercinta. Ia adalah putri yang hebat. Setia melipur lara Ibunda yang “kehilangan” dua putranya di tanah rantau.

Tuan Putri kami semakin beranjak dewasa. Saya rindu masa itu, ketika ia masih berjalan tertatih-tatih. Saya ingin mengendongnya kembali, membawanya jalan-jalan ke pinggiran sawah, ke Balee Lupee, ke Keudee (kedai) Mak Pa membeli kue yang ia suka……

Wahai Tuan Putri, tumbuhlah sebagai bunga yang mengharumi agama, keluarga, dan bangsa. Kami selalu menjaga dan mendo’akanmu.

(CaRing 2. Bus 417. 30122011, 19.51)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *