Sepucuk Surat Musim Semi

Sepucuk Surat Musim Semi

Musim Semi telah tiba di gerbang kota ini. Aku menyambutnya dengan sebait sajak sederhana ini:

musim semi telah tiba
kujemput ia dengan kata-kata
yang mulai memekarkan makna
persahabatan kita

Aku merangkai kata-kata penyambutan ini ketika menulis secarik surat untuk seorang sahabat. Surat itu serupa Musim Semi. Sebab ia akan memekarkan berkuntum-kuntum rindu pada sahabat yang nun jauh di sana. Semoga saja persahabatan kami tetap menebarkan aroma kesetiaan hingga ke ujung dunia.

”Tak ada yang lebih hangat selain kebersamaan yang senantiasa berbagi dalam suka maupun duka”, ujarnya beberapa tahun silam. Aku semakin kagum padanya. Ternyata sahabat sejati itu masih ada di dunia ini. Ia hidup dalam jalinan persahabatan kami.

***

Sepoi-sepoi angin  sore meneduhkan kerisauan hati. Cukup lama aku duduk melototi layar laptop di balkon rumah. Berulang kali aku me-reload halaman yahoo email. Surat balasan darinya belum juga tiba. Mungkinkah di kotanya masih bermusim dingin?

(CerMin 15. Perçin Evi, 03042012, 19.47)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *