Month: August 2012

Teriakan Kerinduan

Teriakan Kerinduan

hening merayap di jalanan

yang sepi

dari deru kendaraan

 

malam telah melarutkan sepi

dari jalanan itu

dan perlahan ia meresap ke hati

yang sudah teramat dalam sunyi

 

tak ada pekikan takbiran

yang ada hanya teriakan kerinduan

penuh kekalahan

sebab aku telah ditaklukkan

dalam kesendirian…….

 

(STAR 592, Hasköy, 18082012, 22.26)

Sebuah Kepergian

Sebuah Kepergian

: Ramadhan

 

kepergianmu

begitu duka

meskipun telah kami duga

jauh sebelumnya

 

melepas kaitan hati

yang menaut utuh

sangat susah sungguh,

tak kuterka sebelumnya

bahwa perpisahan ini semakin memberatkan

walaupun kau telah berulang kali kulepaskan

 

”selamat jalan”

bibirku bergetar mengucap perlahan,

”semoga kita kembali dipertemukan”

hatiku berdebar menguncupkan harapan.

 

(STAR 591, Hasköy, 18082012, 18.41)

Aku dan Ran

Aku dan Ran

bahwa kesempatan
belum menyempatkan
dirinya mempertemukan
kau dan aku sebab jarak masih memisahkan
dan
takdir telah tertulis sedemikian
tak perlu diragukan
akan
sebuah kepastian
sebab kita telah abadi dalam persahabatan
yang memekarkan
kesetiaan
keceriaan
dan
membuahkan
kerinduan
yang meneteskan
kesejukan embun pada pertemuan
di masa depan………..

(STAR 590, Hasköy, 16082012, 02.09)

Yang Pasti

Yang Pasti

: SeuLanga

aku tak tahu pasti
apa yang disampaikankan angin lewat desaunya
pada pucuk pohon jambu itu,

aku juga belum memastikan
apa yang diceritakan air sungai melalui
deras alirnya
pada bebatuan di tepian itu,

yang pasti;
angin dan air sungai itu tahu
bahwa aku selalu
merindukanmu, sahabat sejatiku.

(STAR 589, Hasköy, 16082012, 01.52)

Menertawakan Kepergian

Menertawakan Kepergian

gelak tawamu
seperti mengendapkan ceria
pada tubuh malam ini
yang tak patut ditertawakan

sebab malam sedang berduka
menyaksikan kepergian ramadhan
hari perhari
mendekati gerbang Idul Fitri…..

(STAR 588, Hasköy, 16082012, 01.26)

Sebuah Tatap yang Sekejap

Sebuah Tatap yang Sekejap

diam-diam aku memendam
kagum di kedalaman mataku
ketika bersitatap dengan kerjap matamu
meskipun hanya sekejap

sejak itu kekagumanku tak terpejam
walaupun tatapan kita tak pernah bersua lagi…..

(STAR 587, Hasköy, 13082012, 00.00)

Belum Menamainya Cinta

Belum Menamainya Cinta

ia datang begitu saja
seperti angin yang entah berhembus dari mana
membisikkan namamu tiba-tiba,

aku belum menamainya cinta
tapi telah kutulis ia sebagai c-i-n-t-a.

ia bertamu kapan saja
semacam sahabat dekat yang kuanggap keluarga
bercerita tentangmu tak henti-hentinya,

aku belum memanggilnya cinta
tapi sudah kueja ia sebagai c-i-n-t-a.

ia bertutur sapa dimana saja
seperti udara terhirup yang bersuara
meresapkan aromamu ke rongga dada,

aku belum menyebutnya cinta
tapi telah kubaca ia sebagai c-i-n-t-a.

(STAR 586, Hasköy, 13082012, 23.44)

Buah Perpisahan

Buah Perpisahan

telah kupadamkan cemburu
yang kau sulut dengan api rindu
dalam sajak-sajakku

aku tak lagi menadah makna
dari ladang kata
yang dulu kutanam sebaris dua baris cerita
sejak pertemuan kita
dan kupanen huruf perhurufnya

ah
aku belum sempat memanen kata
yang ternyata
berbuah perpisahan paling duka……..

(STAR 585, Pursaklar, 12082012, 19.36)

Sebuah Ruang dan Aku

Sebuah Ruang dan Aku

aku berbaring di sudut ruangan
menindih keempukan kasur
yang beringsut kusut.

ah
beban-beban pikiran
seperti tumpah di atas bantal
bersarung gambar mawar merah jambu
yang tak beraroma bunga.

di sisi kanan atas
sebuah jendela sangat ramah
mempersilakan angin masuk begitu saja
tanpa berderit.

dinding ruangan ini
memutihkan dirinya
ketika cahaya lampu itu menyentuhnya.

berpotong-potong kenangan
berserakan di lantai
belum sempat kumasukkan kembali
ke dalam lemari pikiran.

di luar masih sama;
malam belum memejamkan matanya,
gemintang masih mengerlip dari jauh,
rembulan rindu purnamanya
sebab hanya saat itu ia benderang sempurna
menjadi ratu malam yang jelita.

di dalam ruangan ini;
aku bisa merindukan siapa saja.

(STAR 584, Hasköy, 12082012, 01.42)

Keutuhan Kita

Keutuhan Kita

: my future princess

/1/
aku dan kamu adalah keutuhan
yang saling menyatukan
berbagai serpihan rasa
di hati sebagai satu cinta

/2/
ketika kau terhanyut dalam kesedihan
aku akan setia
menadah rindu dari tetesan air matamu
satu persatu…..

/3/
kita tetap menyatu
meskipun jarak dan waktu
terbentang seperti memisahkan

sebab kita bukan dua garis rel di stasiun itu
yang bersama tapi tak pernah bertemu.

(STAR 583, Wisma KBRI, 11082012, 19.58)