Month: October 2012

Ini Aku Seperti Apa

Ini Aku Seperti Apa

:SeuLanga

ini pagi
seperti merahasiakan tetes makna
yang belum sempat terucap dari bibir kata.

ini rindu
seperti bergetar pada ujung penantian
sebelum kembali tenang dalam sebuah pelukan.

ini sepi
seperti tak ingin diabaikan musim
supaya keheningannya bisa luruh, beku, dan bersemi kembali.

ini senja
seperti menyalakan cahaya jingga di mata
yang tak sempat menyimpan warna langit biru.

ini aku
seperti sinar bintang yang cemas dari kejauhan
sebab rembulan terlalu cahaya ketika tersenyum padamu.

ini sajak
seperti kamu yang bertanya-tanya
aku seperti apa.

(STAR 643. A.Ş.T.I, 28102012, 19.51)

Setangkai Puisi

Setangkai Puisi

Lelaki itu* duduk di sebuah bangku taman kota. Pepohonan rindang mengelilinginya. Tetapi di depannya hanya terbentang pemandangan senja yang utuh. Tak ada yang menghalangi. Ia menatap langit yang hampir jingga sempurna itu sambil tersenyum.

Perlahan jari telunjuk kanannya bergerak seperti kuas seorang pelukis. Menari-nari di udara dengan gemulainya. Seolah-olah langit sore itu adalah sebuah kanvas yang tak berbatas.

Tetapi ia tak melukis. Ia sedang menuliskan huruf per huruf. Lebih tepatnya, ia merangkai kata demi kata dengan jemari serta imajinya. Ia seperti mencoret-coret keindahan senja dengan semburat penuh makna miliknya sendiri. Hanya dia yang bisa melihat dan membacanya.

Lelaki yang duduk di depan langit senja itu berharap kekasih hatinya yang jauh di mata bisa memetik setangkai puisi pada langit senja hari ini….

*sebenarnya lelaki itu adalah aku yang merindukanmu.

(CerMin 17. Yasir Evi, 24102012, 01.25)

Sajak Rahasia Perjalanan

Sajak Rahasia Perjalanan

/1/
kita berpegangan tangan
saling menggenggam kenangan
sebab kita takut berjatuhan
seperti hujan
yang tak pernah kembali ke pelukan awan.

/2/
angin masih berbisik tentang rahasia perjalanannya
dari suatu celah ke celah lainnya
sementara kita hanya mendengar desaunya
yang entah menyembunyikan pesan rahasia-Nya.

(STAR 642. Yasir Evi, 22102012, 20.32)

Isyarat Paling Rindu

Isyarat Paling Rindu

:my future princess

”jangan pejamkan matamu: aku ingin tinggal di hutan yang gerimis”,
kata Sapardi,

lalu aku yang tak berkejap menatapmu
berkata seperti ini;
”aku sudah basah kuyup duluan di rimba sunyi
sebelum menemukan kemahmu, Gadis”

dan kau hanya memejamkan matamu
merayuku tuk segera masuk ke dalam kemah itu

”kan kukeringkan kesunyian yang menempel pada
sekujur tubuhmu,
kan kuhangatkan segala rasamu
tuk bekal perjalanan kita selanjutnya”,
katamu dengan isyarat paling rindu.

(STAR 641. Yasir Evi, 22102012, 17.38)

Akar Rindu

Akar Rindu

kau tak terlepas dari rinduku
sebab kau telah menjadi akar kayu
yang menancap pada tubuhku
dengan segala rayu.

akulah tanah gembur yang menyuburkan pohonmu.

kaulah akar yang mengoyak tubuh rapuhku.

kita sudah lama menyatu
jauh sebelum pohon itu bertubuh kayu.

(STAR 640. Yasir Evi, 22102012, 14.38)

Sambutan (1)

Sambutan (1)

:MaBa Ankara 2012

bersama hujan malam ini yang bertepuk ramai
kami menyambut kedatanganmu
dengan segala kemeriahan hati
pada kata demi kata.

meskipun Ankara mulai menggigil kedinginan
kami berusaha menghangatkan keakraban
yang saling padu
yang paling satu.

……

(STAR 639. Yasir Evi, 22102012, 00.43)

Muatan Rindu

Muatan Rindu

:Ibu

tadi malam Bu,
bus empat satu tujuh dari kampusku
dipenuhi muatan rindu
yang terlipat rapi dalam beragam koper besar itu
yang berdesakan dalam tas kecil punya si gadis di sebelahku
yang terselip pada saku celana serta baju
yang juga terjepit di dalam sepatu-sepatu.

Ibu,
bus empat satu tujuh yang melaju
menjauh dari kampusku
seperti bersenandung merdu
sebab sedang mengantarkan
mereka ke tempat pemberhentian
yang memberangkatkan segala jenis rindu
ke masing-masing pelukan.

tadi malam Bu,
bus empat satu tujuh dari kampusku
dipenuhi muatan rindu
yang berdesakan dan menyesakkan aku
sebab sesampainya di tempat pemberhentian
tak ada yang menjemput rinduku
hanya angin asing yang memeluk tubuhku.

Ibu,
bus empat satu tujuh yang melaju
menjauh dari kampusku
seperti merintih pilu
sebab ia menahan berat muatan rindu
yang tiba-tiba bertambah banyak di dalam hatiku.

(STAR 637. Yasir Evi, 20102012, 03.43)

Yang Menjauh dan Yang Berlabuh

Yang Menjauh dan Yang Berlabuh

aku tergugah

pada ratap gelisah

yang samar-samar melengking jauh

mencari tempat berlabuh

yang barangkali sangat jauh

sebab tempat terdekat itu, dermaga di hatimu, telah penuh;

 

muatan rinduku juga terapung kembalidi atas amukan ombak yang cemburu pada laju perjalanan ini.

 

(STAR 636, METU, 19102012, 18.37)

Angin-Anginan

Angin-Anginan

angin yang kedinginan
di luar sana tak bisa mendengarkan
perbincangan yang hangat di ruang ini.

angin yang kesepian
di ujung jalan itu hendak menempelkan
telinga halusnya pada daun jendela
ruangan ini, barangkali suara-suara kita
yang ramai ini bisa menghangatkannya.

kita pura-pura tak mendengar ketukan
halus angin yang barangkali ingin
mengabarkan perihal dingin di ujung jalan itu.

kita tak terdiam ketika angin menjadi ribut
berebut masuk lewat celah daun jendela itu.

(STAR 635, Yasir Evi, 18102012, 00.20)