Kehilangan Sapa

Kehilangan Sapa

Sebuah sapa dari orang yang kita rindukan memang menghangatkan hati. Tetapi kata-kata tak berkicau setiap hari. Ada kalanya ia terdiam. Bukan kehabisan kata. Barangkali ia hanya sedang memberi isyarat paling sunyi. Berharap kita mau memahami.

Tetapi aku tak bisa. Tak akan pernah bisa menerjemahkan bunyi kata yang dipendam dalam suatu ruang kedap suara. Harus ada suara. Meskipun hanya sebuah desis pelan yang nyaris tertahan. Seharusnya ia tahu, aku bukan pembaca raut wajah yang bisa menebak isi hati. Membaca wajah cuaca saja aku sering tak bisa. Buktinya, lihat saja, aku basah kuyup. Tak membawa payung meskipun tadi pagi langit berwajah mendung. Lalu, bagaimana caranya aku memahami isyarat sunyimu itu?

Ungkapkan saja. Satu kata saja. ”gelisah, sedih, rindu, suka, jengah, duka, atau cemburu….”. Apa saja. Pasti aku bisa memahami isi hatimu. Seperti ketika membaca awal kata di bait sajakmu. Aku langsung paham kemana arah kata itu melaju tanpa harus menerka-nerka atau bertanya pada bait selanjutnya.

Ayolah. Kumohon dengan sangat. Sekarang aku adalah pagi yang kehilangan kicau burung yang membangunkannya……..

(SeuLanga 47. Yasir Evi, 21032013, 19.05)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *