Month: April 2013

Rindu dan Sepasang Sayap

Rindu dan Sepasang Sayap

:Ibunda

/1/
serangkai kata
tak mampu mengurai rindu kita,
hanya doa
yang tak putus-putusnya
menyambung kerinduan kita, Ibunda.

/2/
rindu seperti ini tak mesti menjadi sebuah sajak
sebab kerinduan kita telah menyatu dalam jarak.

/3/
Ibunda,
sebelum malam memejamkan mata
aku ingin engkau tahu bahwa
”aku merindukanmu dalam keheningan kata
aku juga merindukanmu dalam keteguhan doa”

/3/
aku tak mau berandai-andai
tapi
jika aku menjadi kekupu pertamamu yang pergi
biarkan aku terbang meninggi
dengan sepasang sayap yang engkau pintal dengan benang kelembutan dan jarum ketulusan hati,
yang membuatku berani bermimpi.

(STAR 733. METU, 29042013, 11.07)

Sejak Sajak Ini Mulai Gegabah dalam Memaknai Gelisah Kata

Sejak Sajak Ini Mulai Gegabah dalam Memaknai Gelisah Kata

sejak sajak ini mulai gegabah dalam memaknai gelisah kata
selalu ada yang menulis cerita
tentang kegelisahan jiwa
di bawah langit yang berwarna…..

sejak sajak ini mulai gegabah dalam memaknai gelisah kata
hujan tak ingin segera reda
masih banyak kegelisahan tanah gersang yang harus dibasahkannya…..

sejak sajak ini mulai gegabah dalam memaknai gelisah kata
tanah tak lagi menampung segala tumpahan
ada yang diresapnya dan ada yang dibusukkan…..

sejak sajak ini mulai gegabah dalam memaknai gelisah kata;
kau menjadi langit yang berganti warna dan sesekali membiarkan hujan berjatuhan,
aku menjadi tanah yang wajahnya selalu menengadah tanpa bosan
yang hanya meresap air hujan.

(STAR 732. Yasir Evi, 28042013, 19.21)

Kau Keluhkan

Kau Keluhkan

 

Kau keluhkan awan hitam yang menggulung tiada surutnya
Kau keluhkan dingin malam yang menusuk hingga ke tulang
Hawa ini kau benci
Dan kau inginkan tuk segera pergi
Berdiri angkat kaki
Tiada raut riangmu di muka, pergi segera

Kau keluhkan sunyi ini dan tak ada yang menemani
Kau keluhkan risau hati yang tak kunjung juga berhenti
Rasa itu kau rindu
Dan kau inginkan tuk segera tiba
Dan kembali bermimpi
Hanyut dalam hangatnya pelukan cahaya mentari

Dan ingatlah pesan sang surya pada manusia malam itu
Tuk mengingatnya di saat dia tak ada
Tuk mengingatnya di saat dia tak ada
Tuk mengingatnya di saat dia tak ada, esok pasti jumpa

Ke Entah Berantah

Ke Entah Berantah

 

Dia datang saat hujan reda
Semerbak merekah namun sederhana
Dia bertingkah tiada bercela
Siapa kuasa

Dia menunggu hingga ku jatuh
Terbawa suasana
Dia menghibur saat ku rapuh
Siapa kuasa

Dan kawan
Bawaku tersesat ke entah berantah
Tersaru antara nikmat atau lara
Berpeganglah erat, bersiap terhempas
Ke tanda tanya
Dia bagai suara hangat senja
Senandung tanpa kata
Dia mengaburkan gelap rindu
Siapa kuasa

Dan kawan
Bawaku tersesat ke entah berantah
Tersaru antara nikmat atau lara
Berpeganglah erat, bersiap terhempas
Ke tanda tanya

Di Atas Kapal Kertas

Di Atas Kapal Kertas

Bersembunyi di balik tirai
Memandang jalan
Gadis kecil ingin ke luar
Menantang alam

Tapi di sana hujan
Tiada berkesudahan
Tapi di sana hujan turun membasahi semua sudut kota
Hapus tiap jejak jalan pulang

Berangkat di atas kapal kertas
Menggantungkan haluan
Menambal, menyulam, menghindari karam
Berangkat di atas kapal kertas
Bersandar ke layarnya
Di antara suka, di antara duka

Bersembunyi ia di dalam
Mengintai ruang
Gadis kecil merangkai kapal
Melipat jarak

Tapi di sana hujan
Tiada berkesudahan
Tapi di sana hujan turun membasahi semua sudut kota
Hapus tiap jejak jalan pulang

Berangkat di atas kapal kertas
Menggantungkan haluan
Menambal, menyulam, menghindari karam
Berangkat di atas kapal kertas
Bersandar ke layarnya
Di antara suka, di antara duka

Berjalan Lebih Jauh

Berjalan Lebih Jauh

Bangun,
Sebab pagi terlalu berharga
Tuk kita lewati
Dengan tertidur

Bangun,
Sebab hari terlalu berharga
Tuk kita lalui dengan
Bersungut-sungut

Bangun,
Sebab hidup teramat berharga
Dan kita jalani
Jangan menyerah

Berjalan lebih jauh
Menyelam lebih dalam
Jelajah semua warna
Bersama, bersama

Berjalan lebih jauh
Menyelam lebih dalam
Jelajah semua warna
Bersama, bersama, bersama

Hujan di Mimpi

Hujan di Mimpi

Semesta bicara tanpa bersuara
Semesta ia kadang buta aksara
Sepi itu indah, percayalah
Membisu itu anugerah

Seperti hadirmu di kala gempa
Jujur dan tanpa bersandiwara
Teduhnya seperti hujan di mimpi
Berdua kita berlari

Semesta bergulir tak kenal aral
Seperti langkah-langkah menuju kaki langit
Seperti genangan akankah bertahan
Atau perlahan menjadi lautan

Seperti hadirmu di kala gempa
Jujur dan tanpa bersandiwara
Teduhnya seperti hujan di mimpi
Berdua kita berlari

Sayonara Fb-san

Sayonara Fb-san

Sayonara…….

Saya mengucapkannya pelan-pelan pada si berlayar biru itu. Hanya dia yang bisa mendengar ketika saya menulis status terakhir di tubuhnya. Seingat saya hanya satu orang teman yang sempat nge-like status itu sebelum semuanya dihilangkan untuk sementara waktu.

Kalian masih bisa menemui saya di sini. Maafkan saya yang tidak sempat pamit. Keputusan meninggalkan Fb sangat mendadak. Padahal saya masih sangat sangat membutuhkannya. Tapi….

Saya tak tahu alasan dari ucapan ”sayonara” untuk Fb itu. Biarkan saya berjeda sejenak di sini untuk menemukan alasannya. Semoga ia bisa membujukku kembali pulang 🙂

*ditengah kegalauan menjelang ujian Fisika

(CaRing 8.  METU, 27042013, 12.03)

Sebuah Perjalanan di Bawah Langit tak Berwarna

Sebuah Perjalanan di Bawah Langit tak Berwarna

/1/
mata malam masih mengintai langkahku yang tersesat di lorong-lorong gelap
meskipun aku telah bersembunyi dari sorotan cahaya rembulan yang begitu purnama.

/2/
kerlip gemintang seperti nyala lampu-lampu kota
di kejauhan yang mengingatkan langkah-langkah tersesat di malam buta
untuk segera merencanakan arah kepergian selanjutnya
sebelum semuanya menjadi sia-sia
ketika pagi tiba
dan menjamahnya dengan cahaya.

/3/
perjalanan di malam hari adalah bermimpi
tentang petualangan di bawah langit sendiri
yang tak berwarna sama sekali.

(STAR 731. Yasir Evi, 27042013, 07.28)