Month: September 2013

Lupa

Lupa

Aku suka membacanya. Dia bukan sebuah buku. Bukan juga sepucuk surat cinta. Dia adalah manusia biasa, sama seperti dirimu. Tetapi dia sungguh luar biasa dalam memaknai kedalaman kata. Tak hanya itu, dia tak hanya bercerita lewat mata dan bibir semata, tetapi melalui pemahaman hati yang berbahasa sederhana. Begitu mudah memahaminya. Begitu indah meresapinya.

Aku suka membacanya. Gerak-geriknya tak berlebihan. Kata-katanya tak sekedar ucapan. Aku selalu terkesan.

Tetapi aku berhenti membacanya. Bukan karena satu titik tanda pemberhentian. Bukan juga jeda yang disebabkan sebuah koma. Bukan pula dikarenakan spasi yang menggali jarak untuk seberapa lama.

Aku berhenti membacanya setelah terhisak di depan cermin. Seseorang di dalam cermin itu telah lupa membaca dirinya sendiri.

(CerMin 18. Hisar Evi, 24092013, 20.58)

Maka Aku Berpuisi

Maka Aku Berpuisi

maka aku berpuisi
di pagi sedingin ini

padahal mata mau memejam lagi
ingin kembali menyaksi aku yang dirajam mimpi.

maka aku berpuisi
di pagi sebuah kota yang jauhnya berbatas senjakala, ah aku kembali
berpuisi di kota ini.

(STAR 775. Ankara, 20092013, 19.35)

Masih Serupa

Masih Serupa

kau mengusung beban perjalanan
seperti arakan kematian
yang semestinya dirayakan
dengan air mata kehidupan.

kau datang sedikit terlambat
lalu mengangkat letih yang tak pulang dari penantian panjang
di stasiun Metro ke rumah persinggahan yang perjalanannya juga panjang.

kau masih serupa matahari siang
yang melahirkan bebayang di tubuh para petualang.

(STAR 774. Istanbul, 19092013, 09.57)

(Pra)sangka

(Pra)sangka

:Mawar

kau yang tak berhenti bertanya
setelah kuterima sapa
milikmu yang tiba-tiba.

siang itu waktu memercik sebagai kembang api
sebab aku sedang menunggu seseorang datang
untuk menyalakan cahaya matahari di tangkup hari.

begitulah aku yang anehnya tak jemu
mendengar suara asingmu
yang menyembunyikan sebuah nama.

aku tak pernah bertanya
sebab persahabatan lebih bermakna
dari arti sebuah nama.

lalu kau sulut prasangka.

(STAR 773. Banda Aceh, 15092013, 13.44)

Bukan Empat Kata

Bukan Empat Kata

/1/
ada gemetar di setiap kepergian,
seperti kepulangan
yang biasanya membawa debar
dalam kabar.

/2/
ah,
waktu selalu tak berhenti
meskipun ada polisi
berjaga-jaga di persimpangan jalan ini.

/3/
kita
bisa saja terbang jauh-jauh
tetapi ke tanah juga kita berlabuh
atau jatuh.

/4/
hanya di negeri puisi
kita tidak perlu identitas diri

bebas menjadi siapa atau apa
yang merdeka.

(STAR 772. Banda Aceh, 03092013, 22.47)

Anak Hujan

Anak Hujan

pada suatu senja di kota Banda
langit seperti menua

tak ada anak hujan yang bermain di kejauhan

semua menjadi senyap yang lenyap.

dan ada
seorang gadis bergaun merah terang pergi sendirian
ke kedai
hendak membeli hujan masa kecil.

(STAR 771. Banda Aceh, 03092013, 22.24)

Di mana Matamu?

Di mana Matamu?

Barangkali aku telah mencintaimu jauh sebelum cahaya matamu menembus ke dalam kekosongan mataku.

Sejak kau menyibak riak kekhawatiran di permukaan mataku, aku menjadi pelayar yang ragu. Tak bisa lagi membaca mata angin seperti dulu. Mata ini hanya mencari-cari matamu.

(SeuLanga 51. Banda Aceh, 03092013, 22.12)

Dua Tiga

Dua Tiga

:20 Agustus 2013

/1/
seperti hujan yang berjatuhan
dan awan tak bisa menahannya lebih lama

seperti waktu yang tak mau menunggu
ketika menggugurkan dedaunan usiaku.

/2/
DaMar,
padam segala gelisah itu
setelah nyala matamu
menerbitkan matahari tepat pukul dua belas lewat empat malam tadi

dan aku seperti tertidur di tepian pantai
di bawah nyiur melambai
yang sangat jauh dari keriuhan
dan dari keterasingan.

/3/
puisi merayakan pergantian angka muda
yang selalu menua.

/4/
dan ada rindu yang sama
yang tak pernah berganti usia;
senantiasa muda
selalu mudah jatuh cinta.

/5/
sebenarnya langit tak berwarna

ia tetap terbentang meluas
ketika menerima biru sebagai warna kesedihan
dari matamu.

/6/
umur adalah sumur;
ia seperti terkuras habis
tetapi sebenarnya ia tak akan kekeringan selama-lamanya,
selama masih ada mata air jernih di dasarnya.

semoga saja ada musafir tua
ataupun seekor serigala
yang pulih dahaganya dari mata airku.

/7/
kenapa ulang tahun mesti dirayakan
dengan
menghitung maju
angka satu persatu?

dalam puisi ini
ada sebuah pesta
di mana siapa saja bebas berhitung mundur
dan boleh merayakan ulang tahun yang ke berapa saja.

/8/
Ibunda,
pelukmu selalu dekat dan hangat

kau telah menyalakan lelampu kerinduan
sepanjang jalan yang kutempuh dalam keterjauhan dan keterasingan
dua puluh tiga tahun lamanya.

/9/
kutitip rindu pepohonan pada hijau pegunungan,

mungkinkah ia menjatuhkan daun hijau mudanya
di telapak tanganku?

/10/
adalah kenangan
yang sering tersesat dalam ingatan

sia-sia kau lupakan.

/11/
dalam keheningan kita masing-masing
udara terus bicara
dan kita pura-pura tak mendengarnya

kita hanya menghirupnya
sebagai suguhan untuk berjeda
dari keramaian yang menyesakkan.

/12/
cinta tak pernah mengeluh
meskipun ia sering jatuh
dari mata ke hati,

barangkali itu bukan cinta;
mata yang tergoda dan salah bicara.

/13/
merayakan pergantian
tanpa ada perubahan;

sia-sia.

/14/
”di luar gerimis masih menari lincah”,
katamu

DaMar, barangkali ia sedang merayakan ulang tahunku
bersamamu.

/15/
aku menanggalkan detik demi detik
yang menahun
seperti gerimis yang menjadi rintik-rintik hujan.

/16/
meskipun dedaunan usia tanggal satu persatu
kuncup bunga itu tetap berganti gaun warna-warni
menghias musim semi
di sebuah kota yang sementara kutinggalkan
demi
(sebuah) kerinduan.

/17
di sudut ruang
cahaya remang
tanpa berbayang
sendiri, barangkali seperti aku yang mengenang
cahaya rembulan yang lebih terang.

/18/
lewat tengah malam usia menginjak
angka dua puluh tiga dan kutulis sebuah sajak
meskipun di luar anjing menyalak,

kau baca ia perlahan-lahan
lalu dadamu berdebar tak karuan
bukan sebab ketakutan
tapi karena rindu kita telah bersahutan.

/19/
sepotong rasa tak pernah berhenti berdebar
di kerinduan yang tak sebentar.

/20/
yang lebih dari sajak ini
adalah yang lebih pasti
seperti;

arti pertukaran angka yang silih berganti.

/21/
pernah aku kehilangan sebuah pagi
yang tak bernama

lalu aku menjadi seorang pemberani
yang membungkus matahari
sebagai permen berwarna cerah
untuk si gadis berbibir merah.

/22/
demi merampungkan bait-bait sajak ini
aku menyapa sepi
yang lain semacam hening yang tak bergeming
di reranting
pohon kata
yang pucuknya hijau senantiasa

sebab angin hanya berkisar dan tak benar-benar singgah untuk bersuara sebentar.

/23/
di bait terakhir
perayaan ini tak berakhir

sebab selalu ada pergantian
yang menggilir perubahan.

(STAR 770. Banda Aceh, 29082013, 22.26)

Suara Lainnya

Suara Lainnya

Kau telah mengetuk pintu hatiku perlahan-lahan. Sebelumnya aku tak pernah mendengar suara itu. Sampai suatu ketika, di senja itu, kau memanggil namaku.

(SeuLanga 50. Banda Aceh, 28082013, 23.26)