Month: October 2013

Seperti Hujan dalam Ingatan, Ran

Seperti Hujan dalam Ingatan, Ran

Ran, pada awalnya kata-kata hanya berserakan di bawah langit musim gugur kota ini. Sama seperti empat tahun lalu. Sebelum aku merangkainya jadi bertangkai-tangkai sajak. Untukmu.

Ran, tak ada yang sia-sia dari sebuah pertemuan, bukan? Meskipun di saat itu juga ia pura-pura lupa untuk mengenalkan teman dekatnya, si perpisahan, yang dirahasiakannya kepada kita. Sekarang kita tak bisa menyalahkannya sebab kita mengira ia hanya berteman dengan kita saja.

Ran, tak ada yang bisa melepas dengan lekas, bukan? Bukankah langit biru perlu waktu untuk murung dulu sebelum menurunkan hujan itu?

Ran, seperti hujan dalam ingatan. Kita bisa menyentuh rintik rindunya lebih lama. Dan yang basah bukanlah kita, tapi kata. Kata yang membasuh tubuhnya dengan air hujan ingatan. Lalu kita akan mengenang kata yang tergenang. Akankah ia tenggelam dan maknanya nyalang sebentar sebelum benar-benar hilang?

Ran, tak ada yang bisa membaca k i t a seutuhnya. Nyatanya persahabatan itu belum terurai sempurna dengan sepenuh k a t a. Semisal akar yang terjuntai ke kedalaman pencarian dan tak lagi mencari jalan pulang ke pangkal asal. Yang tersembunyi di bawah tanah sendiri. Yang keberadaannya hanya bisa disentuh seutuhnya oleh batang, reranting, dedaunan hijau atau kering itu. Biar angin yang membelai sebentar pucuk pohon di atasnya berlalu setelah lelah berkabar tentang rapuhnya tempat persinggahannya.

(SeuLanga 52. Hisar Evi, 30102013, 23.23)

Ketika Aku Mencintaimu dengan Sungguh-Sungguh dan Menyeluruh

Ketika Aku Mencintaimu dengan Sungguh-Sungguh dan Menyeluruh

:my future princess

pada tiap sentuhmu
kapal-kapal rindu berlabuh dari pelayaran jauh.

pada tiap sentuhmu
kerlip gemintang terjatuh
tertawan tatap matamu yang teduh.

pada tiap sentuhmu
ombak di laut tubuhku jadi bergemuruh.

pada tiap sentuhmu
hitam malamku luruh dan pagiku bercahaya penuh.

(STAR 788. Hisar Evi, 29102013, 12.44)

Senyap Lain yang Hinggap

Senyap Lain yang Hinggap

/1/
dan ada yang hilang seperti bebayang
terbenam ke tubuh petang

dan kau kenang
setiap pagi menjelang.

/2/
kita tak pernah berhenti
berharap agar ada senyap lain yang hinggap di keraguan ini
biar tak ada yang berani bersuara ragu lagi.

/3/
kau tahu,
antara kau dan aku
tertinggal sebuah rumah tak berpintu
sehingga kenangan terperangkap dan pengap
setelah kau bersiasat membuka jendela lalu tanpa isyarat kau tutup
kembali satu persatu.

/4/
bahkan dalam mimpi kita jadi asing
kita pulang ke rumah masing-masing.

/5/
kau menyalahkan langit berawan
sebab rinai hujan menuai kecemasan

kau merindukanku, bukan?

(STAR 787. Hisar Evi, 22102013, 20.21)

Yang Bertamu dan Bertemu Cahaya

Yang Bertamu dan Bertemu Cahaya

kau nyalakan suluh di malam jauh
sementara rinduku terkapar dihajar pijar cahaya di beranda rumahmu

kau abaikan aku
yang bertamu tanpa jemu

”sebentar lagi”, katamu
lalu kau biarkan aku raib dalam senyap yang gaib tanpamu.

(STAR 786. Subayevleri, 18102013, 21.35)

Terkenang di Lini Masa

Terkenang di Lini Masa

:SeuLanga

aku terkenang
pada jemariku yang
bergemetaran ketika merangkai kata-kata menjadi seikat bunga sajak
yang harum semerbak

sebagai permintaan maaf yang mendalam
setelah diamku menikam
kekosongan yang lama terpejam.

aku hanya menyeru rindu
ketika kesepian tak lagi diucapkan sebagai kehilangan.

(STAR 785. Subayevleri, 18102013, 19.50)

Sia-Sia Kaulupakan

Sia-Sia Kaulupakan

aku masih percaya pada
beberapa hal yang sia-sia;
seperti melupakanmu misalnya

seperti sekarang ini
aku terbangun di tepi pagi
setelah lelah seharian menunggumu terjaga dalam sebuah mimpi
yang kucipta sendiri

seperti di hari hujan itu
rinai basah jadi gelisah yang tak menentu
setelah kepergianmu yang bisu
menghentikan detak waktu.

aku masih percaya
bahwa sia-sia kau melupakan kita
sebab sejauh apapun jarak itu
dalam kerinduan juga kita bertemu.

(STAR 784. Hisar Evi, 18102013, 01.43)

Bila Kau Jatuh Cinta

Bila Kau Jatuh Cinta

bila kau jatuh cinta
kau akan percaya pada satu semesta;
pada aku saja

bila kau lihat bintang
aku jadi kerlipnya

bila kau lihat laut
aku jadi ombaknya

bila kau lihat langit
aku jadi awannya

bila kau lihat hujan
aku jadi rinai basahnya

bila kau lihat rembulan
aku jadi purnamanya

bila kau lihat pepohonan
aku jadi hijaunya

meskipun sebenarnya
aku tidak ada.

(STAR 783. Hisar Evi, 10102013, 00.30)