Month: November 2013

Lima Bait Puisi di Hisar Evi yang Bersuara Lebih Lantang dari Televisi

Lima Bait Puisi di Hisar Evi yang Bersuara Lebih Lantang dari Televisi

di sebuah kamar sempit di jalan Üç Yıldız apartemen nomor empat
waktu sangat lambat larut dalam cawan malam
bersama seorang kawan yang membuat ruangan yang dipenuhi hawa dingin bertambah sesak
dengan suara-suara asing menyebalkan yang tumpah dari mulut televisi bising.

tepat di hadapannya seorang duduk mengusir segala keterasingan
yang selalu mengintip dari jendela kamar,
tak bisa dihalaunya berbagai kerinduan yang terdengar samar-samar dari luar.

puisi telah mencegah seseorang itu dari memuntahkan kata-kata bernanah dari mulutnya,

puisi telah menyalakan api unggun yang menghangatkannya,

sekali lagi, puisi sudah menyelamatkannya dari kegaduhan, keterasingan, dan kerinduan
yang sia-sia.

(STAR 795. Hisar Evi, 18112013, 20.27)

Secarik Surat Untukmu (13)

Secarik Surat Untukmu (13)

:SeuLanga

Ini bukan surat yang menyiratkan sunyi. Aku hanya ingin mengantarkan yang tak tersampaikan dalam jarak yang terentang dan tentang gelisah kata yang tersembunyi. Yang barangkali tak lagi bersuara lantang, hilang tak berbunyi.

Ini surat bersajak tentang kerinduan yang tak mudah diucapkan meskipun sudah dituliskan berulang kali. Bahwa ia ada. Tak bisa diseka seperti air mata. Selalu mengalir, tak surut seperti ombak di laut, ia tak menemui akhir.

Ini surat tak menuntut balasan darimu. Sebab kau tahu, kata-kata sangat penurut, tak berulah jika tak bertitah salah. Mereka pemalu, yang kadang-kadang tersipu ketika makna yang dipendam lama tersibak oleh matamu seketika.

Ini surat seperti aku yang tak lekas menulis larik lagu perpisahan setelah berbagai isyarat kepergian kau lepaskan. Aku hanya menulis puisi demi puisi untuk merayakan hari-hari lalu, sejak hari pertemuan sampai suatu akhir. Dan dalam perjalanan puisi aku tak ingin sampai. Selalu melangkah ke segenap arah dan tak berkeluh kesah. Tak peduli berapa lama usiaku hilang untuk merayakannya.

Ini surat belum selesai. Seperti langit yang menurunkan rintik-rintik kerinduan. Tak berkesudahan.

(STAR 794. Hisar Evi, 17112013, 19.56)

Amnesia (2)

Amnesia (2)

perempuan itu ingin melupakan
dengan sederhana

ketika hujan turun semalaman
ia hanya menuliskan sebuah nama
pada puluhan sajak tak bernama.

(STAR 793. Hisar Evi, 15112013, 00.46)

Amnesia

Amnesia

jangan bertanya
”bisakah aku lupa pada rasa lapar yang menyengat”
jika pada mantan pacar saja
kau masih ingat.

malam itu tak kau dengar bingar hujan,
dalam ingatan
hanya ada suara terbukanya kelopak mawar yang baru mekar dari taman.

kau lupa pada rindu yang kau tanggalkan
yang telah kusulam
jadi gaun malam
yang berpernak-pernik germintang.

(STAR 792. Hisar Evi, 15112013, 00.30)

Awan yang Pasrah Menyiram Kesedihan dan Gadis yang Menangis di Hari Hujan

Awan yang Pasrah Menyiram Kesedihan dan Gadis yang Menangis di Hari Hujan

dan selalu saja ada gadis
yang menangis di hari bergerimis

gadis yang menulis di kertas duka
gadis yang melukis di kanvas luka.

padahal langit jadi mendung
bukan karena wajah gadis itu murung.

gadis yang terhisak
meraung dengan kebisuan kata dari dada yang sesak.

gadis itu tak bisa melepaskan seperti awan
ia hanya ingin tenggelam dalam genangan hujan.

gadis yang pasrah ketika nanah keperihan yang diperamnya meleleh dari sudut matanya
jadi badai rintik-rintik selama-lamanya.

(STAR 791. Hisar Evi, 10112013, 16.49)

DaMar 27

DaMar 27

kau kagum pada Langit,
meskipun ia meninggi jauh
langit itu masih bisa menyentuh
binar matamu yang tak meredup ketika sinarnya jatuh

ia selalu bercahaya
dan berbicara padamu dengan kerlip kata
dari gugusan bintang itu

dan dari langit juga
rintik hujan itu menitikkan rindu ke jemari lentikmu
sehingga ada kata-kata yang meluap
dan menggenangi catatan harianmu.

(STAR 790. Hisar Evi, 04112013, 15.02)

Sebuah Sajak yang Mungkin Akan Kubacakan Untukmu di Hari Hujan

Sebuah Sajak yang Mungkin Akan Kubacakan Untukmu di Hari Hujan

:my future princess

pada mulanya aku cemburu pada hujan
yang menyentuh dan membasuhkan
dingin ke sekujur tubuhmu
sejak dari dulu

tapi aku tahu tanpanya sekarang
aku tak bisa memayungimu, Sayang

tanpanya kita akan melangkah sia-sia
saling berjauhan dalam rinai basahnya

tapi kita bisa berdekatan sekarang
dan aku bisa menghangatkanmu dengan sajak ini, Sayang.

(STAR 789. Hisar Evi, 02112013, 16.47)