Month: August 2014

Kukirim Puisi Ini Kepada Selain Dirimu

Kukirim Puisi Ini Kepada Selain Dirimu

:my future princess

aku tulis puisi ini untukmu
tapi kukirim ia kepada daun yang tak lekas melepas kepergian embun
ketika cahaya bersimpuh di altar pagi

aku tulis puisi ini untukmu
tapi kukirim ia kepada kembang matahari merah yang merekah terang di pucuk siang hari
ketika pagi tiba-tiba hilang demi menjadi bebayang sampai petang menjelang lagi

aku tulis puisi ini untukmu
tapi kukirim ia kepada langit senja yang merona jingga
ketika sebentar lagi matahari ditakdirkan tenggelam demi lahirnya malam

aku tulis puisi ini untukmu
tapi kukirim ia kepada rembulan di langit malam lebaran yang rela mengenakan baju keperakannya yang kuno
pada seorang gadis kecil di dalam sajak Joko Pinurbo

aku tulis puisi ini untukmu
tapi kukirim ia kepada selain dirimu
supaya mereka yang bermakna dalam kehidupanku juga tahu
bahwa aku mencintaimu

(STAR 894. Bus 185, 17082014, 21.19)

Sajak yang Merentang Jarak

Sajak yang Merentang Jarak

Ran, sejak kapan kerinduan tumbuh di antara dua jarak yang terbentang jauh?

Ran, kita gali lagi kata-kata yang tertimbun di kurun waktu sebagai harta karun yang bisa berkilau hingga ke masa lampau dan di masa depan kata-kata itu akan menerangi jalan puisi ini

Ran, sejak kapan kerinduan ada di sajak yang merentang jarak terjauh?

(STAR 893. Wisma KBRI, 17082014, 16.44)

Di Ujung Lamun

Di Ujung Lamun

pagi tertegun
melihat embun
yang mengajaknya melamun
sejenak tentang daun
yang setia menuntun tubuh rapuhnya
supaya terjatuh perlahan-lahan ke tanah basah yang tertimbun cahaya

(STAR 892. Wisma KBRI, 17082014, 15.44)

DaMar 34

DaMar 34

Akhirnya kita bersua
setelah lama kata-kata mencari kita
(atau kita kah yang mencari-cari kata?)

Senyap di mata kita tertangkap mata kata
yang tak mengerjap ketika matamu menatapnya lama
dan ketika di mataku sunyi bersembunyi dari perangkap suara

(STAR 891. Wisma KBRI, 17082014, 15.00)

Luka Itu

Luka Itu

kata-kata terapung di permukaan telaga hitam bercahaya
sebelum dihanyutkan air matamu, padahal aku ingin menampungnya di kemah puisiku

sebab aku tak ingin membiarkannya menjadi bangkai kenangan
yang membusuk dalam ingatanmu

(STAR 889. Erkam Evi, 04082014, 02.00)

DaMar 33

DaMar 33

dan hujan seakan-akan melenyapkan kesenyapan kita
dengan rintik-rintik rindunya
setelah hening menggelinding dari sebuah sepi ke sunyi yang lain, tanpa suara
tak ada kata-kata yang menyapa.

tetesan hujan mengaburkan mata jendela yang berkaca-kaca
menatap daun jatuh yang ditangkap angin berpeluh hujan
setelah tangkai rapuhnya tak sanggup lagi menahannya lebih lama.

bagai hujan petang ini
yang datang beramai-ramai dari berbagai arah tapi tumpah dari satu ketinggian yang sama,
seperti itulah kata-kata ini tercurah kepadamu dari satu kerinduan yang sama.

(STAR 888. Erkam Evi, 04082014, 01.49)

Kerinduan yang Terpisah Jauh

Kerinduan yang Terpisah Jauh

:Ibu

jangan bersedih, Bu
seka air matamu yang jatuh
yang mengalir jauh ke wajah lelahku

Ibu, meskipun tak serumah kita
masih berteduh di bawah atap yang sama;
atap paling rindang, ya,
langit yang rindang itu membentang luas
demi menaungi kerinduan kita yang terpisah jauh

(STAR 887. Erkam Evi, 02082014, 23.14)