Month: September 2014

Hitam Matanya

Hitam Matanya

/1/
hujan yang dingin ingin menjatuhkan tubuh rintik-rintiknya
ke kolam hitam matanya

/2/
matanya terluka ketika menerka kata yang mana
telah berani membaca sunyi yang bersembunyi di dalam hitam matanya

/3/
wajah malam bertambah suram sejak kehilangan rembulan yang tiba-tiba
tercebur ke dalam hitam matanya

/4/
sia-sia melupakan kenangan masa silam yang suka menikam ingatan
sebab ia terekam hitam matanya

(STAR 896. Erkam Evi, 09092014, 00.15)

HBD, Ran!

HBD, Ran!

Engkau kirim musim kemarau berkepanjangan

dari langit yang bergemuruh sebelum badai kecemasan, yang basah setelah rinai kerinduan,

dari langit yang teduh menaungi kami dari jauh

 

sehingga persahabatan ini

seperti biji buah di tengah padang gersang

yang tabah serta risau menunggu curah hujan berkah

agar akar dan tunas lekas tumbuh di tubuh basahnya

sehingga ia kembali menjadi pohon yang berbatang kuat, bercabang lebat, dan berdaun rindang.

 

aku tahu

cuaca tak menolak kehendak-Mu.

 

aku tahu

sejak lahir sudah ada takdir pergiliran musim dari waktuku ke waktu-Mu.

 

***

 

Kita hanya punya beberapa kata untuk bertanya

tapi ada banyak kata ketika kita menebak

mengira-ngira

menerka apa atau siapa

atau berapa usia yang bertambah untuk mengurangi jatah waktu dunia fana.

 

***

 

Tidak ada kata terlambat

untuk menambatkan makna usia pada sajak

yang berulang-ulang kali merayakan hari lahir yang terikat takdir.

 

***

 

Tak apa-apa jika padam segala sinar cahaya di sekelilingmu,

masih ada nyala dalam binar matamu yang tak terpejamkan waktu

yang terang selalu

menerangi puisi-puisiku.

 

***

 

Selamat berulang tahun!

 

 

(STAR 895. Erkam Evi, 05062014, 19.21)