Month: January 2015

Perempuan-Perempuan Salju

Perempuan-Perempuan Salju

/1/
:Sherly Bintang Saputri

Jangan salahkan aku yang tak ragu-ragu
menuliskan nama indahmu di hamparan salju itu
sebab aku tahu kalian punya beberapa kesamaan:

Yang pertama; sama-sama putih bersih,

Yang kedua; sama-sama lembut menyambut
sentuhan tangan hangat dari dekat
dan langkah-langkah yang berjarak pun terpikat
sehingga kerinduan akan tumbuh dari tempat jauh,

Yang terakhir, sama-sama lahir dari keajaiban takdir yang bergilir.

/2/
:Anak Kuman

perempuan adalah salju, katamu.
kalau lagi sendirian dia kelihatan rapuh
sehingga kau bergegas merengkuhnya
agar ia tak lekas terjatuh,

tapi berhati-hatilah kau
kalau mereka sudah berkumpul banyak, apalagi setelah terinjak-injak,
mereka berubah menjadi bongkahan es yang mengeras; susah pecah
dan bisa menggelincirkan langkah siapa saja.

(STAR 918. Çubuk, 26012015, 00.28)

Dalam Senyap Malam Rindu itu Bersayap

Dalam Senyap Malam Rindu itu Bersayap

:Anak Kuman

Di sini
tanpa kamu, sepi mengajak aku bersajak;
menari-nari dengan alunan bunyi puisi
yang sudah pasti sunyi bagi telingamu yang jauh;
sebab telingamu tak bisa menyentuh suara-suara jenuhku yang memenuhi kamar besar ini.

Dingin dan malam telah berhasil membalut tubuhku dengan selimut yang
sangat lembut kusentuh; memberi hangat yang teduh,
Aku menjelma kepompong kosong yang tak berencana menjadi kupu-kupu
biarkan aku tetap menjadi aku
menjadi aku yang tak bersayap tapi selalu hinggap di dahan waktu senyapmu.

Dan di luar angin menggigil sebentar
aku mendengar kamu yang memanggil namaku entah dari arah mana.

(STAR 917. Aydınlıkevler, 20012015, 21.14)

Dapur Senja

Dapur Senja

:Anak Kuman

waktu tergelincir di langit yang senja
dan di dapur itu kau menjadi wanita karir yang bahagia
menyiapkan hidangan berbuka sepulang kerja

letih masih mendekap tubuhmu sambil tak henti menyatakan cintanya
yang melelahkan, melemahkan gerak-gerik tulang
tapi kau tak mengubrisnya, sejak awal
kau telah jatuh cinta pada sambal
ikan teri kentang
meskipun perih di jarimu terkena percikan panas-pedasnya.

jangan khawatir
wanita karir yang memasak di dapur, yang menolak sentuhan kesegaran air
sebelum isi setiap panci menjadi siap saji,
ia terlihat sangat cantik ketika senja merias wajahnya
dan meskipun kepulan asap di dapur melunturkan wangi parfum bajunya, aroma harum masakannya telah menggugah rasa lapar siapa saja

akhirnya meja menerima hidangan berbuka
di atas luas tubuhnya dengan bersuka cita
tapi suami dan anak-anaknya entah di mana…….

(STAR 916. Erkam Evi, 08012015, 22.39)

Angin Singgah di Sebuah Rumah Setelah Dihadang Bayang Kerinduan yang Memanjang dari Celah-Celah Bawah Jendela Kamar

Angin Singgah di Sebuah Rumah Setelah Dihadang Bayang Kerinduan yang Memanjang dari Celah-Celah Bawah Jendela Kamar

:Anak Kuman

hanya pada malam yang tak kau duga
angin berhenti lama di beranda
tapi kau tak bisa melihatnya
yang dengan jemari halusnya
lekas menghapus bekas jejak-jejak kesedihan
yang menderas dari mata air perasaan
di wajah gundahmu; anak perempuan keras kepala
yang menyimpan kerinduan sendirian
tapi sangat manja dalam dekapan ibunda

(STAR 915. Erkam Evi, 07012015, 18.57)

Ode Kerinduan (II)

Ode Kerinduan (II)

:Ran Jr

selalu ada rindu yang gagal diterjemahkan mataku yang jauh
padahal ada waktu yang menganjal jarak agar kita tak dekat

kuantar rindu yang sabar memberi kabar
semenjak kata-kata lupa berbicara pada kita, apakah kau mau mendengar?

pada sebuah jarak yang tak bisa kau sentuh
ada kerinduan yang ingin berlabuh
pada sajadah basahku ketika separuh usia tubuh telah luruh……

(STAR 914. METU, 06012015, 19.54)

Cintaku Sebesar Itu

Cintaku Sebesar Itu

:Anak Kuman

cintaku sebesar biji melinjo
yang telah diolah sekian lama sehingga
menyusut kering menjadi kerupuk emping
yang kemudian kau tatap sepenuh lapar
tapi tak cukup mengenyangkan perutmu,
hanya sekedar penawar rasa hambar di pangkal gigimu

(STAR 913. Erkam Evi, 05012015, 14.52)

Malam Seperti Ini

Malam Seperti Ini

:Anak Kuman

malam telah menggenapkan rindu kita
yang begitu janggal aku ungkapkan pada rumah yang jauh, tak tersentuh mata

begitu kekal kerinduan yang tinggal di hati, tak mati-mati ia
meskipun tak terhitung lagi
berapa kali sudah waktu dan jarak melukainya.

malam seperti ini menggali terowongan sepi yang menganga di dada
tapi aku tak terjebak sendiri
ada gema suaramu yang mengajakku ke ujung jantung
yang tak dihuni sunyi, yang tak akan berhenti bernyanyi bagi kehidupanku
meskipun ada nyeri terselubung di dinding-dindingnya.

malam mengenalkan kita pada rasa sepi
yang dulu begitu asing aku terima
tapi akhirnya kami menjadi sahabat dekat
yang selalu bersepakat untuk bernyanyi bagi kesunyianmu.

(STAR 912. Erkam Evi, 04012015, 17.09)