Month: July 2015

Lakon Puisi

Lakon Puisi

Maka ia berteriak:
”sungguh ini adegan berpura-pura”
sorak dari dua mata pembaca mencoba mengertak kata-kata yang sedang bergerak di panggung sajak,

kata-kata tak ingin peduli, lakonnya tak mungkin berhenti.

Ia berteriak lagi:
”jangan sembunyikan makna di balik perumpamaan-perumpamaan yang pelik!”
sepertinya ia tak mampu menguak rahasia kata, telah pasrah ia, lalu marah-marah saja,
tak sabar ingin bersegera melihat rupa makna yang disembunyikan kata-kata indah berwajah cantik,

kata-kata masih tak ingin peduli, tariannya semakin menjadi-jadi.

Ia berteriak sekali lagi:
”turunkan kata-kata dari panggung sajak, sungguh tak pantas peran singkatnya di atas itu; terlalu luas!”
entah kenapa ia tak bisa percaya
bahwa kata-kata tak terikat ruang dan waktu,

kata-kata tak peduli, dalam satu kata ada semesta rahasia dan jutaan bilangan tak terhingga.

(STAR 939. Erkam Evi, 22072015, 23.22)

Malam Membisu

Malam Membisu

:Putri

Apakah kamu baik-baik saja di sana?
malam membisu.
tak terdengar kabar
atau desau angin yang mengganggu tidurku,
hanya ada suara gemuruh dari langit jauh
yang entah bagaimana caranya
ia telah menyusup lewat pori-pori kulit tubuhku yang merinding
dan ia sedang meruntuhkan dinding-dinding sunyi
yang menyekat ruang kekhawatiran dari hal-hal tak terduga.

Apakah kamu baik-baik saja di sana?
sebentar lagi hujan turun.
kesedihan akan lekas terlepas dari langit itu;
langit yang luas tapi tak sanggup menahan kepergian yang telah direncanakan.
jangan berjalan sendirian di luar,
berteduhlah di bawah rindang rumahmu.

Apakah kamu baik-baik saja di sana?
perjalanan pulang memang tak singkat;
harus ada jutaan kepak sayap bagi burung-burung.
dan kita bertanya-tanya;
apakah di bawah langit mendung
wajah mereka juga murung?
tak usah bingung, biarkan pertanyaan-pertanyaan seperti ini mengapung di ketinggian.

Apakah kamu baik-baik saja di sana?
sebentar lagi pagi.
semoga terdengar kabar,
ada sinar dari binar matamu
atau kilau matahari yang menerangi sepanjang hari.

(STAR 938. Erkam Evi, 22072015, 01.55)

Cinta tak Terkata Lewat Sajak Sederhana

Cinta tak Terkata Lewat Sajak Sederhana

Tiba-tiba aku mau menulis beberapa sajak cinta
karena cintamu tumbuh subur di musim hujan
sedangkan
tubuhku seperti kayu lapuk setelah seharian
dan sendirian (akan semalaman dan sendiri lagi) bersentuhan dengan
kasur yang ingin segera kujemur biar tambah hangat tidur kami, biar bertambah lentur mimpi kami.

Seperti tak ada matahari di langit ini
(padahal aku terang-terangan mencintai matahari)
dan aku menyalahkan kenangan-kenangan yang membumbung tinggi,
menjadi gumpalan tebal hitam yang diam-diam menyayat hati
dari keluasan langit yang menaungi,
dari perasaan rumit yang tak bisa kubendungi.

Kau sedang bermandikan hujan, senang diguyur kenangan
dan aku akan menunggu pelangi yang barangkali
yang belum tentu jadi setelah reda hujan, setelah jeda kenangan.

Mungkin tak apa-apa jika cinta kita tak sama,
sebab sungguh berbeda
cinta yang terungkap dalam mata gadis suci
dengan
cinta yang terucap dalam dusta manis lelaki.

(STAR 937. Erkam Evi, 17072015, 22.15)

Setelah Sekian Lamanya

Setelah Sekian Lamanya

setelah sekian lama
kalian lelah juga
menelaah bunyi kata-kata
yang berubah ketika disuarakan
dan menerjemahkan sunyi maknanya
yang pecah ketika didiamkan
dalam sajak-sajak lamaku

setelah sekian lama
akhirnya kata-kata menyerahkan dirinya sendiri dan juga aku
kepada sebuah puisi (ini)
yang bebas sembarang jadi di lawas awang-awang pikiran bulan juli
sehingga tak perlu perlawanan dari kami
ketika mata kalian teramat tajam mengupas lapisan maknanya

setelah sekian lamanya
kalian masih setia
dan kita kembali berpelukan dari kejauhan menjelang perpisahan selanjutnya
sementara kata-kata sudah menjelma pepohonan
yang menggugurkan daun-daun
ke halaman rumah kosong yang menunggu peziarah dari masa depan

(STAR 936. Zafer Evi, 02072015, 04.06)