Month: November 2015

Ingin Aku Menjauh dari Puisi tapi Aku Akan Kehilangan Kata-Kata untuk Menyapa Matamu ketika Kita Berjumpa Suatu Hari Nanti

Ingin Aku Menjauh dari Puisi tapi Aku Akan Kehilangan Kata-Kata untuk Menyapa Matamu ketika Kita Berjumpa Suatu Hari Nanti

Ingin aku menjauh dari puisi
berteduh di bawah naungan sunyi
bersimpuh di sudut-sudut sepi,
Tapi kata-kata telah menyuruhku pulang ke dalam mata kalian
yang terang membaca kehidupan.

Ingin aku menjauh dari puisi
berlabuh di pulau sepi
kemudian berteduh sendirian di bawah langit bulan juni agar diguyur hujan dan disambar kenangan.

Ingin aku menjauh dari puisi
tetapi kata-kata mengajakku bertamu ke dalam matamu,

lalu aku diam-diam bermalam di mata itu;
di bawah langit yang tak menyalakan gemintang
tapi bisa terang bercahaya,

apakah cahaya itu lelampu rindu?
yang hanya bisa dinyalakan dari kejauhan
dan dipadamkan dengan dekat sentuhan?

Di bawah langit yang tak memejam itu
aku terdiam;
ini mata menyihir malam lewat tatap sayunya
yang sorotnya menggapai ketinggian bulan
sehingga malam mulai menyulam benang-benang mimpi
sebagai selimut pagi yang mengabut di pucuk-pucuk daun muda yang baru saja mekar di puncak bukit sebuah daratan tinggi.

Di antara langit yang dihimpit perasaan-perasaan rumit;
ada gerimis. ada hujan. dan ada tangis perempuan.
Tapi tak akan kurelakan kau bersedih sendirian.

(STAR 949. Banten, 23112015, 20.03)