Month: February 2016

Seperti Biasanya

Seperti Biasanya

Seperti biasanya
Aku ingin bercerita kepada matamu
Tentang sebuah siang yang begitu terang
Dan rinduku hilang dalam bayangnya,
apakah rinduku telah singgah di dalam matamu yang teduh?

Angin yang berhembus dari kotamu bercengkrama dengan telinga kananku,
Telinga kiri pura-pura tidak mendengar
Dan membiarkan aku kebingungan
dalam memahami kabar yang disampaikannya setengah-setengah,
Adakah sebuah kepastian yang seutuhnya tersampaikan?

Seperti biasanya
Kata-kata mencariku di matamu
Tapi tak ditemukannya aku di sana,
Bagaimanakah cara kamu menyembunyikan cinta?

(STAR 956. Tangerang Selatan, 29022016, 18.28)

Ada Cahaya yang Berlayar dalam Binar Matamu Ketika Membaca Kata-Kata Seperti Ini

Ada Cahaya yang Berlayar dalam Binar Matamu Ketika Membaca Kata-Kata Seperti Ini

Kepada hujan yang mengaburkan pandangan kaca;
aku adalah sepasang mata lain yang mengagumi air matamu,
bukan kesedihan yang membasuh tubuhku, tetapi kerinduan pada keluasan langit yang menerima curahan perasaanku.

Kepada hujan yang mengaburkan pandangan kaca;
kenapa kabur dari langit yang dirindukan mataku dan bersedia menguburkan diri dalam bumi ini?

Ketahuilah;
Langit itu biru
Bumi ini adalah merah; bukan hijau pepohonan yang ditebang, tetapi darah yang tumpah.

***

Ada awan yang mengabarkan kejatuhan hujan
secara perlahan-lahan atau terburu-buru
Dan selalu ada kata-kata yang berkata rindu
Seperti itu.

***

Ingatan hanya menguburkan kenangan untuk sementara, waktu selalu punya cara dan saat tepat untuk menggali luka yang terbaring di samping kenangan.

***

Ingatan akan memekarkan bunga mimpi hanya di malam hari
sehingga kita tidak bisa melupakan kisah bersejarah yang bermunculan di halaman buku diari; cinta yang tak mau mati
meskipun tadi siang pisau kata menikamnya berkali-kali,
dan kisah seseorang yang tak lelah berziarah ke kuburan mantan yang jasadnya telah dicuri dan bersemayam di lain hati.

***

(STAR 955. Tangerang Selatan, 07022016, 11.06)