Category: CaRing (Catatan Ringan)

Senja Tetap Jingga

Senja Tetap Jingga

Pada awal November lima tahun lalu, seseorang bertanya kepadanya, “Star, senja yang jingga itu maksudnya apa?”

Dia menjawab, “senja yang jingga adalah senja yang paling indah secara literatur kata. Tetapi dalam sajak-sajak saya, senja paling jingga adalah suatu perasaan yang melebihi keindahan langit biru, begitu berkesan meskipun hanya sebentar dan kemudian menjadi rasa duka (kelam malam hari), tetapi ia pasti akan muncul lagi selama kita tak memalingkan wajah dari langit sore, selama kita tak membenci malam yang menghapusnya…..”

(CaRing 8. Banda Aceh, 17062017, 15.39)

Sayonara Fb-san

Sayonara Fb-san

Sayonara…….

Saya mengucapkannya pelan-pelan pada si berlayar biru itu. Hanya dia yang bisa mendengar ketika saya menulis status terakhir di tubuhnya. Seingat saya hanya satu orang teman yang sempat nge-like status itu sebelum semuanya dihilangkan untuk sementara waktu.

Kalian masih bisa menemui saya di sini. Maafkan saya yang tidak sempat pamit. Keputusan meninggalkan Fb sangat mendadak. Padahal saya masih sangat sangat membutuhkannya. Tapi….

Saya tak tahu alasan dari ucapan ”sayonara” untuk Fb itu. Biarkan saya berjeda sejenak di sini untuk menemukan alasannya. Semoga ia bisa membujukku kembali pulang ­čÖé

*ditengah kegalauan menjelang ujian Fisika

(CaRing 8.  METU, 27042013, 12.03)

Menjadi Apa

Menjadi Apa

Ada yang betah berlama-lama bertahan dalam suatu ruang kehangatan. Tak berani keluar. Takut pada dingin yang menyergap dari segala penjuru.

Bagi dia, tak ada yang lebih hangat dari kesendirian. Tak ada kesepian yang hinggap selama masih ada nyala api perapian.

Ada juga yang ingin menetap di ruang terbuka. Tanpa pintu dan tak berjendela. Membiarkan semuanya keluar dan masuk sebebas-bebasnya. Bagi dia, siapa saja bisa menyapa, dan kepergian bukan sebuah alasan yang harus direncanakan.

Dan aku tak tahu harus menjadi apa ketika kau datang. Ruang hangat itu atau ruang terbuka yang tak takut pada kehilangan……..

(CaRing 7.  Yasir Evi, 03032013, 22.54)

Perahu Rindu

Perahu Rindu

Sore ini di Ankara, rinduku menjelma perahu……….

Saya bergegas ke kampus hanya untuk mengantar suara kerinduanku ke telinga-telinga keluarga di rumah nun jauh di sana. Namun tak semuanya  sampai ke sana. Si koneksi menjadi gelombang badai di tengah lautan maya. Alhasil perahu rinduku tak sempat menurunkan semua muatannya di dermaga keluarga.

Mendengar suara-suara mereka saja sudah cukup untuk meyakinkan diri sendiri, bahwa aku baik-baik saja di sini. Masih banyak nikmat yang patut disyukuri karena kehadiran mereka di sana. Yang setia mendengar kata-kata saya. Yang setia menjadi embun pagi di hati saya.Yang selalu setia menunggu kedatangan perahu rindu saya.

(CaRing 6.  METU, 06072012, 16.49)

Kagum

Kagum

Aku sempat tertawan pada usia kekaguman yang singkat.

Secara tiba-tiba, tak terduga, mataku terpedaya pada keanggunannya di siang itu. Sungguh aku tak berani menatapnya lekat-lekat, hanya sepintas lirikan saja.

Rasa gugup berdegup tak biasanya. Pertemuan pertama pada sebuah kesempatan atau moment spesial ternyata mampu mengubah sikapku di hari-hari berikutnya. Tak karuan hatiku mendenyutkan namanya. Mengaguminya.

Perpaduan antara warna kesukaanku dan gerimis sore itu melukis kisah baru di kanvas hidupku. Rupanya aku terlalu egois dalam merumuskan kisah itu. Tak bertahan lama. Sebab aku salah memaknai kekagumanku itu.

(CaRing 5. ┬áPer├žin Evi, 18052012, 12.24)

Changed

Changed

Adakah yang lebih menakutkan dari sebuah perubahan ketika ia mengubah diri tanpa kita sadari?

This is a nightmare. Tiba-tiba aku bangun dari sebuah mimpi yang menakutkan. Ini tidak seperti biasanya. Mimpi buruk ini telah menyatu dalam kenyataan.

Aku tidak bisa lari darinya. Lebih tepatnya tidak bisa lagi. Kakiku kaku. Harapanku lumpuh. Kata-kataku juga rapuh.

I don’t want a changed. Setidaknya untuk hal ini. Aku ingin seperti yang dulu. Yang tulus memaknai sebuah persahabatan.

Tetapi mimpi buruk itu telah menjelma kenyataan ketika aku terlihat berbeda di depan cerminnya seorang sahabat. Aku terlihat sebagai orang yang berbeda di depannya.

Adakah yang lebih menakutkan dari ini? Seseorang berubah tanpa ia sadari dan ia bingung, sangat kebingungan sampai-sampai ia tidak mengerti kenapa ia berubah. Padahal ia selalu memberi yang terbaik dan meng-treasure-kan sahabatnya.

Kini, aku sedang mengusir mimpi buruk itu.

Dimanakah aku sekarang? My only wish is ”Aku ingin terus berada di sisimu sebagai sahabat yang kau kenal, zutto”.

(CaRing 4. ┬áPer├žin Evi, 13032012, 14.22)

Muara Cinta

Muara Cinta

hanya berupa serpihan-serpihan hari lalu, yang hanyut dalam aliran waktu, menuju muara keabadian yang menunggu.

cinta itu akan menyatu.

 

 

adalah status facebook yang baru saja saya update. Kata-kata itu terangkai begitu saja saat jemari menekan-nekan keyboard laptop di depan saya.

Status saya ini tidak berhubungan dengan hari ini yang mereka (baca: orang-orang modern) sebut sebagai hari kasih sayang alias Valentine Day. Sebab bagi saya, cinta itu tidak identik dan dilebih-lebihkan hanya pada satu hari tertentu. Cinta kepada siapapun selayaknya diungkapkan setiap waktu, khususnya cinta kepada Allah, Sang Pemilik cinta hakiki.

Di kehidupan ini, saya berusaha dicintai oleh Allah dan juga oleh banyak orang. Cinta yang saya maksud bukan dalam arti sempit. Tetapi cinta yang berupa kasih sayang tulus. Harus ikhlas dalam menyayangi di setiap waktu.

Cinta yang tidak dicemari, selalu mengalir deras dari waktu ke waktu. Cinta yang memulihkan dahaga orang banyak. Cinta yang tak akan pernah hilang karena akan bermuara di keabadian.

Cinta itu akan menyatu, tidak akan hilang atau pun bercerai berai.

(CaRing 3.  Hisar Evi, 14022012, 16.03)

Princess Nelly

Princess Nelly

Dua tahun lima bulan tak bersua. Juga tak bertutur sapa. Jarak memang tak pernah lelah memisahkan raga kami. Tetapi jiwaku masih menumbuhkan namanya di suatu ladang berisi cinta. Ya, saya sangat mencintainya.

Ia adalah Putri Malu. Tidak berani bicara dengan abangnya di telepon. Bersembunyi dan dengan langkah-langkah malunya menyambut abangnya yang baru pulang untuk liburan, enam bulan sekali.

Ia adalah Putri Bungsu. Satu-satunya tuan putri di keluarga. Yang dilindungi oleh empat pengawal setianya: abang-abang tercinta. Yang dikasihi “Raja” dan “Ratu”.

Ia adalah Putri Nelly. Adik tercinta kami. Senantiasa menyalakan ceria di rumah sederhana kami. Tidak pernah lupa berceloteh manja.

Saya merindukannya. Ia bersama abang setianya, Aci, mengisi kekosongan yang kami tinggalkan untuk Ayahanda dan Ibunda tercinta. Ia adalah putri yang hebat. Setia melipur lara Ibunda yang “kehilangan” dua putranya di tanah rantau.

Tuan Putri kami semakin beranjak dewasa. Saya rindu masa itu, ketika ia masih berjalan tertatih-tatih. Saya ingin mengendongnya kembali, membawanya jalan-jalan ke pinggiran sawah, ke Balee Lupee, ke Keudee (kedai) Mak Pa membeli kue yang ia suka……

Wahai Tuan Putri, tumbuhlah sebagai bunga yang mengharumi agama, keluarga, dan bangsa. Kami selalu menjaga dan mendo’akanmu.

(CaRing 2. Bus 417. 30122011, 19.51)

Mencoba Berani

Mencoba Berani

Sore hari semakin dingin. Sebentar lagi angka di temperatur dapat turun ke bawah 0. Saya baru saja melangkahkan kaki ke luar. Dingin yang sangat luar biasa setia menawarkan gigil langsung menyambut kemunculanku. Cuaca seperti ini membuatku betah “berhibernasi” di rumah. Apalagi hari ini jadwal kuliah kosong. Tetapi saya “nekat” ke luar dari kehangatan menuju kedinginan demi ujian Midterm.

Ya, saya sedang dalam perjalanan ke kampus. Sekitar 1 jam waktu ditempuh oleh bus. Lumayan lama, apalagi bus yang mengangkutku (seperti buah kelapa aja ni, diangkut-angkut -_-) tidak dinyalakan AC (eh salah, maksudnya pemanas). Bisa dibayangkan kedinginan yang melanda seperti gelombang yang meriakkan rindu di pantai (gak nyambung, efek sering puitis :p).

Anyway, catatan yang saya paksa ringan ini tidak berkisah tentang cuaca dingin. Tidak boleh melenceng dari judul di atas. Makanya, ini catatan tentang KE-BE-RA-NI-AN !!! Pasti para pembaca (kalau ada yang membaca, kalau tidak saya baca sendiri berulang-ulang :p) bertanya-tanya di dalam hati (kan gak mungkin bertanya ke tetangga), “keberanian seperti apakah ini?”.

Baiklah, saya akan menjawab. Tidak ada pilihan lain karena Anda memaksa saya (PeDeTingkatTinggi mode: ON).

Hmmm, hmmmm, hmmmm (sorry kebanyakan “hmmm”-nya :p, lagi berpikir),

Saya mencoba berani ikut ujian Midterm 2 Introduction to Genetic, sore ini jam 17.40. Kenapa harus berani? Kan mengikuti ujian adalah hal yang biasa bagi para mahasiswa. Tetapi saat ini adalah “luar biasa” bagi saya. Karena saya belum siap secara materi, tetapi mencoba berani untuk siap menghadapinya.

Saya sempat takut. Memilih untuk menyerah. Saya tidak mempunyai lecture notes sebab tidak pernah masuk kelas. Eitss, jangan mengambil kesimpulan kalau saya malas (meskipun kenyataannya iya). Bentrokan alias tabrakan dengan course lain lah yang menghalangi penampakan saya di kelas (ihhh, seperti maop alias hantu di Gentayangan). Jadi, saya tidak dapat memahami materi-materi yang akan diujiankan. Meskipun ada slides power point presentation dari Ibu Dosen, keadaan tak akan berubah signifikan. Karena jumlah slides-nya hampir 200 !!!. Tak akan bisa dikuasai dalam tempo yang sangat singkat.

Alhamdulillah, saya berhasil melawan ketakutan itu. Berani menghadapi ujian apa adanya. Tidak mau menyerah sebelum bertandang, ehh maksudnya bertanding (ujian yang susah memang seperti kompetisi supaya nilainya tidak meluncur jauh dari rata-rata). Saya yakin penyesalan akan datang (walaupun tak diundang) kalau saya menyerah karena alasan takut tidak bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan “super” susah Ibu Dosen.

“Coba saja Bal, ayo mencoba memberanikan diri, kan Allah bersama kita, All iz well…”, bisik hati saya setelah lama merenung di kamar. Alhamdulillah, bisikan itu menuntunku keluar, untuk memeluk dingin, eits salah lagi…., yang benarnya: untuk mencoba berani !

(CaRing 1. Bus 427, 29122011, 20.33)