Category: Catatan Harian

DuaPuluhEnam Januari

DuaPuluhEnam Januari

Aku ingin menulis sepucuk surat kepada sahabat. Entah kenapa, aku berhasrat mengirim sejumlah kata untuknya. Kata-kata yang mungkin pernah salah memilih kasih tapi selalu pasrah memilah rindu yang sama.

Akhir-akhir ini aku pandai bermain kata hanya untuk menyampaikan hal-hal sepele seperti sekedar kabar dan perihal yang diseru bertele-tele; rindu!

Ah, aku urung merampungkan surat itu. Karena ia sudah pasti tahu isinya. Tentang rindu yang didaur ulang berkali-kali. Tentang rindu yang berulang-ulang bersemi.

(2014)

DuaPuluhSatu Januari

DuaPuluhSatu Januari

Akhirnya, kata-kata ingin dituliskan kembali. Setelah pergi menghilang. Sudah beberapa hari berpetualang.

Mereka mengetuk-ngetuk mataku yang menahan kantuk. Aku sedikit terkejut lalu membiarkan mereka masuk, merasuk ke dalam otakku. Di situ mereka tinggal sejenak, beranak pinak banyak-banyak. Lalu mereka berpasangan dengan makna masing-masing, saling berpegang tangan, menjadi pasangan yang menyuarakan keinginan yang sama.

Ah, kata-kata memang tak pernah kehabisan suara.

(2014)

Tigabelas Januari

Tigabelas Januari

Seharian di rumah teman. Sendirian. Masih mengungsikan diri dari kebisingan.

Menghabiskan dua cangkir kopi tadi pagi. Tapi secawan kenangan masih tersisa, sia-sia meruapkan aroma kerinduan dari ingatan.

HP sibuk sendiri menerima notifikasi fesbuk. Aku juga sibuk menahan kantuk dan melawan suntuk. Entah kenapa kami sama-sama sok sibuk.

(2014)

Duabelas Januari

Duabelas Januari

Tadi siang, menjelang pulang dari pengungsian diri, aku berhenti di depan apartemen teman karena samar-samar mendengar Ibu jempol kaki mengomel-ngomel sendiri. Rupanya ia tidak sedang menggerutu pada sepatu. Tidak juga menjerit terjepit kesempitan yang terlalu dipaksakan sepatu seperti dua minggu lalu. Tapi ia mengeluh padaku.

Kata Ibu jempol, anak-anaknya kedinginan. Ia tak menyalahkanku karena tak bisa memeluk anak-anaknya satu persatu. Kan mereka ditakdirkan terpisah sejak lama, dari hari aku lahir. Ia cuma memintaku untuk membungkus mereka dengan kaus berlapis-lapis, jangan yang tipis. Tapi aku hanya punya sepasang kaus kaki. Sudah berhari-hari tak kuganti. Agak lusuh memang. Sudah seminggu tak kucuci. Tapi selalu kubasuh wajah Ibu jempol dan anak-anaknya sampai bersih, lima kali sehari, bahkan lebih.

Aku masih berdiri. Letih sendiri. Sedikit sedih sih. Lalu kuajak kaki melangkah lagi. Arahnya kuubah. Bukan ke rumah sendiri. Tapi ke pasar rakyat dekat ”son durak” Subayevleri.

Aku melewati para penjual buah yang ramah. Buah-buahannya tersenyum ranum. Begitu segar rekahnya; menggoda para pembeli. Tapi hatiku tak berpaling. Mataku hanya sepintas mengerling. Lekas-lekas menjauh. Cepat-cepat kudekati sebuah tenda yang entah warnanya apa setelah lama berkeliling dan mata mengerling.

Di bawah tenda besar itu ada wanita separuh baya yang sabar menungguku. Dipersilakannya aku melihat-lihat dari dekat setelah diperbolehkannya aku menyentuh-nyentuh kehidupannya dari jauh.

Aku katakan padanya; aku mau beli kaus baru untuk Ibu jempol kaki dan anak-anaknya. Meskipun lebaran masih jauh aku tetap ingin beli yang baru. Tak suka aku dengar Ibu jempol mengeluh.

Ibu itu mengerti. Beliau mengangguk dan menunduk. Barangkali Ibu jempolnya yang tua juga bijak memahami. Dua-duanya sama-sama peduli. Ah, Ibu di mana pun selalu mengerti!

”Ayo dipilih-pilih, meskipun kehidupan tak kasih banyak pilihan untuk kita, ia masih memberi warna. Seperti kaus kaki warna-warni ini. Tak peduli warnanya apa, mereka tetap sama. Sama-sama menghangatkan Ibu jempol beserta anak-anaknya. Pasti Ibu jempol tak akan mengeluh, ia bisa menerima warna apa saja.”

Aku pilih tiga warna sesuka hati. Beliau kasih tiga pasang kaus kaki. Lalu aku bayar sepenuh hati tanpa tawar-menawar lagi.

Begitulah tadi. Entah kenapa aku tak lelah lagi. Langkah kaki jadi mudah diarahkan ke rumah. Barangkali Ibu jempol sudah memberi tahu anak-anaknya tentang kaus baru. Itu sebabnya mereka ingin cepat-cepat pulang untuk memakainya.

Ah, aku terharu. Juga rindu pada Ibu……..

(2014)

Sebelas Januari

Sebelas Januari

Sepulang dari ujian aku mengulang-ngulang kata hujan sambil menerawang jauh menyentuh langit terang yang sedang girang. Wajahnya biru keputih-putihan. Tak seperti matahari yang berwajah garang, berwarna nyalang.

Di kursi penumpang belakang, di dalam bus bernomer satu tiga dua, aku mengarang cerita sembarang; tentang seseorang yang suka mengulang-ngulang kata hujan.

(2014)