Category: Cerita Mini (CerMin)

Cinta yang Singgah Sebentar

Cinta yang Singgah Sebentar

Sebenarnya Rey percaya pada satu nama yang bisa mengisi kekosongan di hatinya. Tapi dia sedikit ragu.

Hari demi hari berlalu dengan menyisakan pertanyaan dalam hatinya. Ada sesuatu yang kelihatan bijak dan ingin memberi jawaban. Tapi, Rey tak bisa menjawab dengan perasaan yang belum dikenalinya itu.

Rey telah jatuh cinta lagi. Lagi-lagi cinta yang datang mengetuk pintu hatinya. Entah kenapa, dia berani membuka pintu itu; mempersilakan satu nama untuk mengisi kekosongan hatinya.

Sejenak Rey melupakan sejumlah nama yang menyamar sebagai cinta masa lalunya, yang melamar perasaannya untuk dipermainkan dalam hubungan singkat. Sejenak Rey lupa; “cinta seperti itu hanya singgah sebentar, mudah pergi ke luar hati, dan akan menyisakan penyesalan”.

Bingung

Bingung

Rey bingung. Pikirannya sudah lama terkurung di dalam kamarnya. Dia tidak berani membuka pintu. Mungkin lebih tepatnya dia belum siap ke luar. Sesuatu atau seseorang di balik pintu itu setia menunggunya. Entah sejak kapan…….

***

Cinta yang rumit itu ternyata punya ending yang sederhana. Sebuah kisah yang berakhir bahagia belum tentu dirangkai dengan kata-kata semanis madu di awal mulanya. Bisa saja pahit. Kadang-kadang pedas rasanya. Rumit dijelaskan dengan lidah, apalagi dengan logika manusia.

Jadi, ending-nya seperti ini; dua orang jatuh cinta pada saat yang tepat (tidak cepat, tidak terlambat). Padahal sedetik yang lalu mereka tak saling kenal. Dan entah bagaimana, tiba-tiba ada cinta di antara mereka. Tentu saja, awalnya mereka belum kenal dengan cinta seperti itu meskipun dulu sering kali kata “cinta” keluar dari mulut.

Lalu, awal mula cerita cinta mereka seperti apa? Tentu saja, itu bukan cinta mereka. Tapi cinta masing-masing yang asing. Tak saling melengkapi.

Cinta masing-masing mereka sangat rumit. Dihiasi dengan banyak kesalahan.  Dibohongi oleh jutaan perasaan. Sampai-sampai dijatuhkan martabatnya karena terlalu berlebihan. Itulah cintanya Rey kepada seseorang yang sekarang masih setia menunggunya di balik pintu kamar itu.

***

Rey bingung. Langit di luar sedang mendung. Tapi Rey tak peduli. Padahal dia menunggu hujan turun dari minggu lalu.

Rey suka hujan. Tapi seseorang di balik pintu kamarnya sangat membenci hujan. Sebab kemarin dia meninggalkan Rey sendirian di bawah rintik-rintik basahnya. Sebab kemarin dia pergi berteduh sendiri karena benci. Karena benci kepada Rey yang berbuat salah.

***

Dia sudah memaafkan Rey. Tidak butuh waktu yang lama untuk memaafkan tingkah laku Rey. Karena dia mencintai Rey. Karena dia sangat mencintai Rey. Karena cintanya sangat berlebihan. Telah melampaui batas. Sehingga dia mabuk di daratan cinta dan diamuk gelombang rindu di lautan asmara.

***

Rey bingung. Apakah Anda juga bingung membaca cerita ini? Ya, saya juga bingung. Makanya, judul cerita ini adalah “Bingung”.

*untuk seseorang yang sedang bingung dengan perasaannya, padahal dia hanya perlu melangkah keluar kamar dan memarahi seseorang yang sangat berlebihan itu………

Lupa

Lupa

Aku suka membacanya. Dia bukan sebuah buku. Bukan juga sepucuk surat cinta. Dia adalah manusia biasa, sama seperti dirimu. Tetapi dia sungguh luar biasa dalam memaknai kedalaman kata. Tak hanya itu, dia tak hanya bercerita lewat mata dan bibir semata, tetapi melalui pemahaman hati yang berbahasa sederhana. Begitu mudah memahaminya. Begitu indah meresapinya.

Aku suka membacanya. Gerak-geriknya tak berlebihan. Kata-katanya tak sekedar ucapan. Aku selalu terkesan.

Tetapi aku berhenti membacanya. Bukan karena satu titik tanda pemberhentian. Bukan juga jeda yang disebabkan sebuah koma. Bukan pula dikarenakan spasi yang menggali jarak untuk seberapa lama.

Aku berhenti membacanya setelah terhisak di depan cermin. Seseorang di dalam cermin itu telah lupa membaca dirinya sendiri.

(CerMin 18. Hisar Evi, 24092013, 20.58)

Setangkai Puisi

Setangkai Puisi

Lelaki itu* duduk di sebuah bangku taman kota. Pepohonan rindang mengelilinginya. Tetapi di depannya hanya terbentang pemandangan senja yang utuh. Tak ada yang menghalangi. Ia menatap langit yang hampir jingga sempurna itu sambil tersenyum.

Perlahan jari telunjuk kanannya bergerak seperti kuas seorang pelukis. Menari-nari di udara dengan gemulainya. Seolah-olah langit sore itu adalah sebuah kanvas yang tak berbatas.

Tetapi ia tak melukis. Ia sedang menuliskan huruf per huruf. Lebih tepatnya, ia merangkai kata demi kata dengan jemari serta imajinya. Ia seperti mencoret-coret keindahan senja dengan semburat penuh makna miliknya sendiri. Hanya dia yang bisa melihat dan membacanya.

Lelaki yang duduk di depan langit senja itu berharap kekasih hatinya yang jauh di mata bisa memetik setangkai puisi pada langit senja hari ini….

*sebenarnya lelaki itu adalah aku yang merindukanmu.

(CerMin 17. Yasir Evi, 24102012, 01.25)

Seberkas Cahaya dari Sahabat

Seberkas Cahaya dari Sahabat

Beberapa tahun silam:

Sebuah pesan singkat menggetarkan Nokia 3200-ku. Langsung setelah jemariku membuka kunci tombolnya, sebuah nama muncul di layar. Nama milik seorang yang sangat jauh namun terlalu dekat dari hatiku.

—————————-

”teman itu

seperti bintang

tak selalu nampak

tapi selalu ada

di hati

^_^”

pengirim: Bintang

—————————-

Aku tersenyum setelah membacanya. Meskipun pernah mendengar kata-kata itu dari teman yang lain, pesan sederhananya itu terlihat berbeda. Kata-kata itu bercahaya serupa kerlip gemintang. Entah kenapa ia tiba-tiba menerangi langit hatiku.

***

Cahayanya tidak pernah redup sampai sekarang. Ia benar-benar telah menjelma Bintang. Aku selalu mengenang kebersamaan kami yang hangat dan teduh dalam sebuah persahabatan. Seperti kata-kata yang dituliskannya untukku:

Ran, tadi malam berjuta kenang menjelma kunang-kunang. Mereka mencari cahaya kata-kata dari ladang jiwa kita. Ingin jadikan kerlip makna. Sebab kelam telah dipekatkan. Sebab sepi sudah diheningkan oleh kerinduan. 

Ran, tersenyumlah. Biarkan senyummu purnama. Sebab kunang-kunang ingin jelma gemintang di langit hatimu. Supaya mereka padu dalam cahaya kebersamaan. 

(CerMin 16. Perçin Evi, 29042012, 22.51)

Sepucuk Surat Musim Semi

Sepucuk Surat Musim Semi

Musim Semi telah tiba di gerbang kota ini. Aku menyambutnya dengan sebait sajak sederhana ini:

musim semi telah tiba
kujemput ia dengan kata-kata
yang mulai memekarkan makna
persahabatan kita

Aku merangkai kata-kata penyambutan ini ketika menulis secarik surat untuk seorang sahabat. Surat itu serupa Musim Semi. Sebab ia akan memekarkan berkuntum-kuntum rindu pada sahabat yang nun jauh di sana. Semoga saja persahabatan kami tetap menebarkan aroma kesetiaan hingga ke ujung dunia.

”Tak ada yang lebih hangat selain kebersamaan yang senantiasa berbagi dalam suka maupun duka”, ujarnya beberapa tahun silam. Aku semakin kagum padanya. Ternyata sahabat sejati itu masih ada di dunia ini. Ia hidup dalam jalinan persahabatan kami.

***

Sepoi-sepoi angin  sore meneduhkan kerisauan hati. Cukup lama aku duduk melototi layar laptop di balkon rumah. Berulang kali aku me-reload halaman yahoo email. Surat balasan darinya belum juga tiba. Mungkinkah di kotanya masih bermusim dingin?

(CerMin 15. Perçin Evi, 03042012, 19.47)

Menungguku

Menungguku

“Aku akan menunggumu, terus menunggu sampai kau datang”, ujarmu memecah keheningan malam itu. “Kau harus kembali, janji?”.

“Iya, jangan khawatir Adinda, meskipun tersesat aku hanya akan mencari jalan pulang ke pelukanmu”, jawabku mantap.

“Kalau begitu aku tidak akan menunggu”

“Hah?? Kenapa?”

“Karena ada kemungkinan kau akan tersesat dan menemukan tempat persinggahan baru”

“Jadi aku harus berbuat apa? Kau tahu, aku harus menempuh perjalanan ini, tak mungkin kita bersatu sekarang”

“Aku tidak menahanmu pergi. Tidak pernah. Aku juga percaya kepada takdir. Ia akan menuntunmu ke pelukanku jika itu yang tertulis di kitab nyata-Nya”

“Lalu?”

“Aku tidak akan menunggu. Hanya berdiam diri di ranah ini. Aku akan menjemputmu”

“Jadi aku tidak perlu melangkah pulang?”

“Tidak. Kau harus tetap teguh mencari jalan pulang. Teruslah melangkah bersama doa dan harapan. Aku juga begitu. Aku ingin kita bertemu lagi di tengah perjalanan itu. Ketika kau kehilangan arah di luasnya samudra, aku akan menyalakan lampu mercusuar di pantai penantian. Ketika kau tersesat di rimba raya, aku akan mencarimu dan membawa obor untuk menerangi jalan setapak yang kau tempuh. Aku juga akan membangun jembatan di antara hati kita”.

Aku terdiam. “Ada kemungkinan kau akan tersesat juga ketika menjemputku”, bisikku di dalam hati.

(CerMin 14. Perçin Evi, 21022012, 19.29)

Diary Merah Muda

Diary Merah Muda

Malam semakin larut. Entah kenapa mataku belum terpejam. Berbagai peristiwa yang ingin kulupakan muncul kembali ke permukaan.

Kulirik sepintas diary berwarna merah muda itu. Ia masih tergeletak di meja belajar. Enggan kusentuh. Percayalah. Aku tidak menginginkan kehadirannya di ruangan ini. Juga tidak ada ruang spesial buatnya.

Semua berawal dari sebuah perhatian seseorang padaku. Tak pernah kuduga sebelumnya kalau semua ini sangat berlebihan. Ia telah terjebak dalam perangkap perasaannya sendiri. Sungguh aku tidak memasangnya. Tiba-tiba saja ia memberikan kejutan yang berhasil mengejutkanku. Sebuah akhir penuh kejutan.

Ia telah berubah. Perhatiannya itu yang telah mengubahnya. Sialnya aku baru sadar setelah membaca halaman pertama diary merah muda itu:

“Adikku, telah mekar sekuntum mawar merah muda di taman hati Abang. Ia harum semerbak. Wanginya menggugah rasa yang telah lama membuncah di dada.

Sejak bertemu denganmu, hari-hariku kembali berwarna. Aku menemukan keceriaan mentari di wajahmu yang menghangatkan pagiku. Purnama di wajahmu selalu benderang di langit malamku.

Adikku yang jelita, kau adalah sekuntum mawar merah muda itu.

Ya, hanya namamu seorang yang mekar di hati Abang.

Maaf karena Abang baru berani mengungkapkan rasa terpendam ini di hari perpisahan kita. Terimalah hadiah tulusku berupa diary berwarna merah muda ini. Semoga kau mengisi lembar-lembar halaman selanjutnya dengan curahan kata-katamu. Semoga saja makna kebersamaan kita bermekaran di diary ini.

The man who adores you.”

Kubiarkan halaman selanjutnya kosong. Aku tak akan menulis sepatah kata pun. Sebab semuanya, termasuk dirinya, adalah omong kosong !

(CerMin 13. Akyurt, 25012012, 07.39)

*kisah di atas adalah fiktif belaka, pabila ada kesamaan kisah atau peristiwa, memang disengaja.

Menjemput Bidadari

Menjemput Bidadari

Entah kekuatan apa yang menggerakkan langkahku ke tempat ini. Padahal separuh jiwaku telah pergi setelah menerima secarik undangan berwarna biru itu.

 

Aku seperti berada di atas pentas pertunjukan, di mana aku bukan pemeran utama. Aku hanya diundang untuk meramaikan kebahagiaan milik mereka di pentas ini.

 

Aku tersenyum menatap sahabat sejatiku yang sedang memulai babak baru kehidupannya. Aku tidak dapat menyembunyikan perasaan bahagia. Karena bulan sedang purnama di wajahnya.

 

***

 

Entah kekuatan apa yang menahanku di sini. Padahal makanan spesial yang terhidang itu tidak menggugah rasa laparku. Aku juga sudah mengucapkan ”selamat menempuh hidup baru” pada mereka sambil terus berdoa dalam hati untuk kebahagiannya. Kado spesial berwarna biru juga telah kuletakkan di meja penuh bingkisan. Sepertinya masih ada satu hal yang tersisa….

 

Tiba-tiba aku sudah berdiri di sebuah panggung kecil di sudut keramaian. Lantunan musik darispeaker berukuran besar itu berhenti. Aku menggantikannya dengan alunan sebuah musik yang kusimpan di flashdisk.

 

Lalu suaraku memenuhi sudut-sudut aula besar itu:

 

Bila yakin tlah tiba,

Teguh didalam jiwa

Kesabaran menjadi bunga

 

Sementara waktu berlalu

Penantian tak berarti sia sia 

Saat perjalanan adalah pencarian diri

 

Laksana Zulaikha jalani hari

Sabar menanti Yusuf sang tambatan hati

Di penantian mencari diri

Memohonkan ampunan dipertemukan…..

 

Segera kan kujemput engkau bidadari

Bila tiba waktu kutemukan aku

Ya Ilahi Robbi keras ku mencari diri sepenuh hati

Teguhkanlahku di langkah ini

Di pencarian hakikat diri

Dan izinkan kujemput bidadari

Tuk bersama menuju Mu mengisi hari…

 

Kini yakin tlah tiba

Teguh di dalam jiwa

Kesabaran adalah permata

 

Dan waktu terus berlalu

Penantian tak berarti sia sia

Saat perjalanan adalah pencarian diri

 

Laksana Adam dan Hawa

Turun ke bumi terpisah jarak waktu

Di penantian mencari diri

Memohonkan ampunan dipertemukan

 

Bidadari tlah menyentuh hati

Teguhkan nurani

Bidadari tlah menyapa jiwa 

Memberikan makna

 

Segera kan kujemput engkau bidadari

Bila tiba waktu kutemukan aku

Ya Ilahi Robbi keras ku mencari diri sepenuh hati

Teguhkanlahku di langkah ini

Di pencarian hakikat diri

Dan izinkan kujemput bidadari

Tuk bersama menuju Mu mengisi hari……

 

mengisi hari……….*

 

***

 

Aku terdiam melihat ke arah pelaminan. Suaraku bergetar ketika menyanyikan kata-kata itu. Aku berusaha keras membendung aliran yang hendak tumpah dari telaga mataku. Tetapi aku melihat aliran sungai kecil di wajahnya. Ohh, purnama di wajahnya redup.

 

”lagu ini saya persembahkan untuk Dara Baro dan Linto Baro yang berbahagia di hari spesial ini. Ini sebuah kado persahabatan. Hmmm, semoga Bidadarinya selalu bahagia….”

 

Tepukan tangan dari keramaian menyertai langkah-langkahku ke pintu keluar. Aku berpaling sejenak ke arahnya. Aku berbisik di hati, ”hal yang kamu impikan telah kupenuhi dengan tulus, semoga rembulan di wajahmu selalu purnama”.

 

(CerMin 12. Yıldırım Evi, 20112011, 16.49)

 

*nasyid Menjemput Bidadari.

Dear Dek Yi: Mengenang “Moly & Emi”

Dear Dek Yi: Mengenang “Moly & Emi”

Di bawah sinar rembulan, seorang lelaki menggenggam sebuah pena. Ia sedang menulis di secarik kertas, sebuah surat.

Di paragraf pertama tertulis:

“Dear Dek Yi,
Meskipun jarak belum mampu menaklukkan kesabaran, ia dapat memekarkan kerinduan. Saban hari, aku mengenang kenakalan dalam kebersamaan kita yang singkat. Suatu masa yang indah untuk kurindukan, Dek Yi….”

Paragraf kedua diisi dengan:

“Pada masa yang indah itu, kita masih terlalu kecil untuk mendefinisikan “cinta” dan belum mampu menulis “i love you”, tetapi kita mengejanya “a-lopyu” tanpa peduli bagaimana bentuk nyatanya.

“Hahahahaha……..”, aku menertawakan perseteruan tentang cinta-cintaan. Kita berperang mulut demi sebuah kemenangan: ‘namamu dg Emi’ atau ‘namaku dg Moly’ yang gagal kita bantah.”

Lelaki itu tersenyum lepas, tubuhnya masih bermandikan cahaya rembulan. Dia belum menemukan kalimat penutup untuk mengakhiri surat yang belum rampung.

(CerMin 11. Eskişehir, 15082011, 13.14)