Category: Cerita Mini (CerMin)

Catatan Biru

Catatan Biru

……….

“Gerimis baru saja reda. Tetapi langit masih muram, diselimuti awan hitam tebal. Tak dibiarkan matahari berpesta dengan kemerlapan cahayanya. Sama halnya dengan langit hatiku.”

Dia berhenti membaca karena gerimis itu pindah ke matanya. Semakin deras. Tak dapat ia bendung luapan duka yang menganak sungai di bawah kelopak mata.

“Maafkan aku”, ucapnya lirih.

***

Sebuah diary berwarna biru terbuka di atas ranjang. Di sampingnya, seorang pemuda tergeletak sendiri. Kedua matanya masih terbuka. Sungai-sungai di bawah kelopak matanya juga belum kering. Tetapi ia tidak bergerak. Kaku. Telah lama tenggelam dalam lautan darah yang memerahkan sprei ranjangnya.

Sebuah pisau juga tergeletak di lantai…..

Ada coretan berwarna merah di halaman diary yang terbuka itu. “I still love you” yang ditulis dengan darah. Ia menjadi lembaran catatan terakhir di diary biru pemberian kekasih yang telah lama pergi.

(CerMin 10. Eskişehir, 13082011, 13.30)

Sebuah Kalimat Pertama Menjadi yang Terakhir

Sebuah Kalimat Pertama Menjadi yang Terakhir

“Langit kelam dan suara kami bungkam.” Hanya satu kalimat ini yang bisa kutulis ketika mengisahkan cerita tentang aku dan dia. Kamu pasti tidak akan percaya kalau aku mencoret-coret langit dengan namanya sehingga tinta penaku habis. Aku memilih melakukan itu daripada menyambung kalimat pertama di atas.

Percayalah, aku adalah jagoan dalam urusan menulis. Tetapi aku rela menjadi pengecut gara-gara kalimat itu tidak pernah rampung kutulis menjadi sebuah cerita tentang aku dan dia.

Oh iya, kamu pasti penasaran kenapa kalimat yang tertata dengan kata-kata biasa itu dapat menggigilkan jemariku? Kenapa tidak pernah aku rampungkan? Ahh, jawabannya sangat sederhana, Kawan. “Aku dan dia belum memulai sebuah kisah karena malam itu suara kami bungkam.”

(CerMin 9. Eskişehir, 29072011, 19.45)

Lelaki Aneh

Lelaki Aneh

Kamu pasti tidak akan percaya jika aku mengenal seorang lelaki yang tidak merindukan kampung halamannya. Aneh kan? Aku juga baru percaya.

Lelaki itu berbeda Tiga Enam Puluh derajat denganku. Aku telah lama menuang kerinduanku ke dalam gelas-gelas sajak yang tidak pernah penuh karena selalu kuteguk untuk mengobati kerinduan kepada kampung halaman. Sementara ia tidak pernah sekalipun menyebut kata “rindu” kepada siapapun.

Kamu pasti bertanya, “apakah ia bisu?”. Tidak. Ia tidak bisu, hanya saja ia menelan banyak butir-butir pil pahit kehidupan ketika masih mengembalakan mimpi-mimpinya di kampung halaman. Jangan tanyakan lagi seperti apa kepahitan itu. Cukup lelaki itu saja yang tahu.

Aku yakin kamu sudah mengerti maksudku. “Lelaki itu memadam rindu dalam dendam.”

(CerMin 8. Eskişehir, 16072011, 13.33)

Lelaki Aneh

Lelaki Aneh

Kamu pasti tidak akan percaya jika aku mengenal seorang lelaki yang tidak merindukan kampung halamannya. Aneh kan? Aku juga baru percaya.

Lelaki itu berbeda Tiga Enam Puluh derajat denganku. Aku telah lama menuang kerinduanku ke dalam gelas-gelas sajak yang tidak pernah penuh karena selalu kuteguk untuk mengobati kerinduan kepada kampung halaman. Sementara ia tidak pernah sekalipun menyebut kata “rindu” kepada siapapun.

Kamu pasti bertanya, “apakah ia bisu?”. Tidak. Ia tidak bisu, hanya saja ia menelan banyak butir-butir pil pahit kehidupan ketika masih mengembalakan mimpi-mimpinya di kampung halaman. Jangan tanyakan lagi seperti apa kepahitan itu. Cukup lelaki itu saja yang tahu.

Aku yakin kamu sudah mengerti maksudku. “Lelaki itu memadam rindu dalam dendam.”

(CerMin 8. Eskişehir, 16072011, 13.33)

Jeda

Jeda

Pepehonan kata yang kau tanam di taman racun itu meneduhkan langkah-langkahku di dunia maya. Dalam jeda sejenak, aku mengunjungi berandamu. Tahukah kamu? Diam-diam aku telah membangun sebuah pintu di berandamu. Ya, sebuah pintu masuk ke taman racun itu. Entahlah, aku hanya ingin berteduh di bawah kerindangan pepohonan katamu sambil melihat banyak insan berlalu lalang. Mereka menyemangatimu dan menanam kata-kata di sana. Akankah mereka menguncupkan tunas-tunas makna untukmu??

Ahh, aku tidak mau menghiraukannya. Kubuang perasaan yang hanya akan menyiakan arti persahabatan. Aku takut sayap akan tumbuh di badanku dan menjelma menjadi kumbang. “Jangan biarkan bisikan-bisikan cemburu di hati membuatmu terbang jauh darinya”, teriak sebuah suara di kedalaman hati.

Ahh, akhirnya aku bisa tersenyum kembali. Aku akan terus bersyukur karena bisa berteduh di berandamu. Banyak pelajaran dan hikmah yang kupetik tiada henti dari pepehonan katamu. “Terima kasih telah menjadi seorang sahabat sejati untuk sebuah bintang yang masih redup di langit malam”, ucapku sambil melanjutkan jeda di berandamu.

(CerMin 7. Eskişehir, 15072011, 14.32)

Jeda

Jeda

Pepehonan kata yang kau tanam di taman racun itu meneduhkan langkah-langkahku di dunia maya. Dalam jeda sejenak, aku mengunjungi berandamu. Tahukah kamu? Diam-diam aku telah membangun sebuah pintu di berandamu. Ya, sebuah pintu masuk ke taman racun itu. Entahlah, aku hanya ingin berteduh di bawah kerindangan pepohonan katamu sambil melihat banyak insan berlalu lalang. Mereka menyemangatimu dan menanam kata-kata di sana. Akankah mereka menguncupkan tunas-tunas makna untukmu??

Ahh, aku tidak mau menghiraukannya. Kubuang perasaan yang hanya akan menyiakan arti persahabatan. Aku takut sayap akan tumbuh di badanku dan menjelma menjadi kumbang. “Jangan biarkan bisikan-bisikan cemburu di hati membuatmu terbang jauh darinya”, teriak sebuah suara di kedalaman hati.

Ahh, akhirnya aku bisa tersenyum kembali. Aku akan terus bersyukur karena bisa berteduh di berandamu. Banyak pelajaran dan hikmah yang kupetik tiada henti dari pepehonan katamu. “Terima kasih telah menjadi seorang sahabat sejati untuk sebuah bintang yang masih redup di langit malam”, ucapku sambil melanjutkan jeda di berandamu.

(CerMin 7. Eskişehir, 15072011, 14.32)

Dua Dunia

Dua Dunia

“Sekarang dunia menjadi dua; online dan offline”, ujarmu sambil menyeruput secangkir kopi panas yang terhidang di depanmu.
“Maksudmu, dunia maya dan dunia nyata?”, sahutku.
“Bukan, dua-duanya adalah maya. Tidak ada yang nyata sebenarnya. Kita sudah tahu kalau dunia ini hanya diciptakan sebagai tempat persinggahan sementara, yang nyata adalah dunia keabadian yang sedang menunggu kita”
“Terus?”
“Ya di dunia maya ini, kita online di siang hari dan offline di malam hari”
“Begitu saja?”
“Ia, tetapi sayangnya, kita hanya online untuk berinteraksi dengan sesama manusia dan memenuhi kebutuhan maya kita, sering sekali kita lupa untuk berinteraksi dengan Sang Pencipta dunia maya ini, padahal kita sangat membutuhkan-Nya”
“Ya, aku setuju. Hanya ada sedikit manusia yang beruntung karena mereka terus online walaupun manusia lain sedang offline”
“Maksudmu?”
“Mereka tidak pernah lupa kepada Sang Penciptanya walaupun di malam hari. Hati mereka senantiasa online dan mengingat-Nya”
“Hmm, semoga kita termasuk ke dalam golongan manusia seperti itu”
“Amiin,, asalkan saja kita tidak pernah lupa kalau sedang menghembuskan nafas di dunia maya”

(CerMin 6. Eskişehir, 10072011, 14.49)

Dua Dunia

Dua Dunia

“Sekarang dunia menjadi dua; online dan offline”, ujarmu sambil menyeruput secangkir kopi panas yang terhidang di depanmu.
“Maksudmu, dunia maya dan dunia nyata?”, sahutku.
“Bukan, dua-duanya adalah maya. Tidak ada yang nyata sebenarnya. Kita sudah tahu kalau dunia ini hanya diciptakan sebagai tempat persinggahan sementara, yang nyata adalah dunia keabadian yang sedang menunggu kita”
“Terus?”
“Ya di dunia maya ini, kita online di siang hari dan offline di malam hari”
“Begitu saja?”
“Ia, tetapi sayangnya, kita hanya online untuk berinteraksi dengan sesama manusia dan memenuhi kebutuhan maya kita, sering sekali kita lupa untuk berinteraksi dengan Sang Pencipta dunia maya ini, padahal kita sangat membutuhkan-Nya”
“Ya, aku setuju. Hanya ada sedikit manusia yang beruntung karena mereka terus online walaupun manusia lain sedang offline”
“Maksudmu?”
“Mereka tidak pernah lupa kepada Sang Penciptanya walaupun di malam hari. Hati mereka senantiasa online dan mengingat-Nya”
“Hmm, semoga kita termasuk ke dalam golongan manusia seperti itu”
“Amiin,, asalkan saja kita tidak pernah lupa kalau sedang menghembuskan nafas di dunia maya”

(CerMin 6. Eskişehir, 10072011, 14.49)

Pembaca

Pembaca

“Dedaunan tetap hijau walaupun dibakar matahari”, ujarmu tiba-tiba pada suatu siang. Aku menoleh ke arahmu dan kemudian mengikuti arah pandanganmu ke pohon Platanus orientalis. “Kau tahu kenapa?”, kau bertanya sambil menatapku. “Karena ia memang sudah hijau sejak diciptakan, walaupun dibakar terik matahari sepanjang hari, ia akan tetap hijau”, jawabku dengan nada penuh kemenangan. Aku yakin kalau jawabanku pasti benar dan menganggap pertanyaanmu sangat konyol. Tetapi sejurus kemudian aku terkejut. Kau berani mengatakan kalau jawabanku salah besar. Aku setengah tidak percaya dan menatapmu dengan mata terbuka lebar.

Kau tersenyum dan berkata, “dedaunan tetap hijau karena mereka bertasbih tiada henti memuja Sang Pencipta, persis seperti anggota badan Nabi Ibrahim a.s ketika dibakar di dalam nyala api, Sang Pencipta menyuruh api menjadi dingin, kemudian panasnya matahari menjadi sebuah kompor pemasak makanan lezat bagi tanaman itu.” Aku mencerna kata-katamu. Sungguh luar biasa bijaknya. Penuh makna. Diam-diam aku semakin mengagumimu. Kau adalah orang yang terus membaca dari tanda-tanda kekuasaan-Nya yang berlimpah ruah di jagad raya ini.

“Ajari aku membaca, aku ingin menjadi muridmu”, pintaku kepadamu.

(CerMin 5. Eskişehir, 10072011, 14.03)

Pembaca

Pembaca

“Dedaunan tetap hijau walaupun dibakar matahari”, ujarmu tiba-tiba pada suatu siang. Aku menoleh ke arahmu dan kemudian mengikuti arah pandanganmu ke pohon Platanus orientalis. “Kau tahu kenapa?”, kau bertanya sambil menatapku. “Karena ia memang sudah hijau sejak diciptakan, walaupun dibakar terik matahari sepanjang hari, ia akan tetap hijau”, jawabku dengan nada penuh kemenangan. Aku yakin kalau jawabanku pasti benar dan menganggap pertanyaanmu sangat konyol. Tetapi sejurus kemudian aku terkejut. Kau berani mengatakan kalau jawabanku salah besar. Aku setengah tidak percaya dan menatapmu dengan mata terbuka lebar.

Kau tersenyum dan berkata, “dedaunan tetap hijau karena mereka bertasbih tiada henti memuja Sang Pencipta, persis seperti anggota badan Nabi Ibrahim a.s ketika dibakar di dalam nyala api, Sang Pencipta menyuruh api menjadi dingin, kemudian panasnya matahari menjadi sebuah kompor pemasak makanan lezat bagi tanaman itu.” Aku mencerna kata-katamu. Sungguh luar biasa bijaknya. Penuh makna. Diam-diam aku semakin mengagumimu. Kau adalah orang yang terus membaca dari tanda-tanda kekuasaan-Nya yang berlimpah ruah di jagad raya ini.

“Ajari aku membaca, aku ingin menjadi muridmu”, pintaku kepadamu.

(CerMin 5. Eskişehir, 10072011, 14.03)