Category: Cinta

Cinta (2)

Cinta (2)

Cinta itu menguatkan, bukan melemahkan.

Banyak orang yang galau karena cinta. Cinta telah mengacaukan pikirannya. Alhasil ia menjadi lemah karenanya. Padahal cinta itu menguatkan, bukan melemahkan.

Bisa jadi, yang mereka sebut cinta itu bukan cinta yang sebenarnya. Namun hanya sebuah obsesi. Ya, obsesi untuk memiliki yang ia suka seutuhnya. Tak boleh direbut oleh orang lain. Pokoknya, ia harus mendapatkannya mati-matian.

Ketika ia gagal merebutnya dari seseorang yang ia suka atau kagumi, ia akan cenderung memaksa sehingga menyakiti perasaan seseorang itu.   Ia hanya akan melemahkan rasa cinta menjadi sesuatu yang perlu dikasihani.

Jangan kalah. Kekuatan cinta itu besar. Banyak orang yang rela melepaskan atau pun mengorbankan kekasih atau buah hatinya karena cinta. Seperti kisah Nabi Ibrahim yang rela mematuhi perintah Rab-Nya untuk menyembelih putra tercintanya. Cinta kepada Rabb lebih besar sehingga DIA membalas cinta tulusnya dengan kebaikan-kebaikan tak terhingga.

Makanya, cintailah dengan keyakinan bahwa cinta itu menguatkan.

Salam Cinta,

(Ankara, 03042012)

Cinta (1)

Cinta (1)

“Mungkin cinta tak bisa diungkapkan sepenuhnya dengan kata, tetapi cinta bisa bicara secara menyeluruh dalam perbuatan”.

Kata-kata sederhana di atas adalah status facebook saya pada tanggal 4 Maret tahun ini. It was a completely random thought. Setelah saya hayati dalam-dalam (tetapi tidak sampai tenggelam dalam keraguan), ternyata makna dari status itu dalam juga.

Banyak orang (mungkin termasuk saya dan kamu, baca: kita) terlalu banyak mengungkapkan rasa cintanya melalui kata-kata. Alhasil, kita sering lupa membuktikan kekuatan cinta tersebut dalam perbuatan. Sebenarnya cinta lebih mudah berbicara lewat tindakan atau sikap yang kita tunjukkan kepada orang-orang tercinta.

Sebagai contoh, daripada mengumbar-umbarkan AKU CINTA KAMU alias I LOVE YOU ataupun CINTAKU SELUAS SAMUDRA, lebih baik kita bersikap: memahami dan sebenar-benarnya mengerti tentang segala kekurangan orang yang kita cintai itu.

“Lha? Kok kekurangan? Kenapa tidak kelebihan?”, mungkin sebagian dari kita menemukan pertanyaan tersebut di benaknya. Jawabannya sangat sederhana: cinta itu dapat mengubah kekurangan menjadi kelebihan di matanya, sehingga baik dalam kata maupun perbuatan, ia akan sungguh-sungguh mencintainya dengan sesempurna mungkin.

Jadi, cinta itu bukan hanya sekedar pamer kata. Cinta itu adalah perbuatan memahami dan mengubah kekurangan menjadi kelebihan.

Cintailah sesuatu yang baik di mata-Nya, carilah keridhaan-Nya dalam cinta apapun itu.

Salam Cinta,
(Ankara, 25032012, 15.56)