Category: Prosa

Curahan Kata Sebelum Turunnya Hujan

Curahan Kata Sebelum Turunnya Hujan

Malam memekatkan tirainya. Tak ada yang berani menyibak kelam. Yang bersembunyi dalam sunyi. Yang bertiarap dalam senyap.

Suara-suara tertelan keraguan. Bukan terabaikan. Hanya saja bergema di pinggiran. Tak sampai gaungnya ke keramaian. Karena malam masih memekatkan tirainya.

Ada yang tertahan dan ada yang tercurahkan. Serupa duka awan melalui mendungnya. Kadang-kadang dicurahkannya rintik-rintik kesedihan yang kita namakan hujan. Sering juga ia tertahan sebab ada yang tak berani melepaskan.

Kau tahu, Adinda. Perasaan ini masih mengumpal di langit hati. Tertahan dalam awan mendung. Yang tak berani mencurahkan. Sebab kepastian diselubungi rahasia-Nya.

Malam ini, hanya kucurahkan kata-kata ke ranah hatimu. Supaya basah. Agar menumbuhkan kerinduan-kerinduan.

(SeuLanga 44. Perçin Evi, 04042012, 22.55)

Buku Persahabatan (III)

Buku Persahabatan (III)

Dari jauh kita menerka arti kebersamaan yang belum pernah berdekatan seperti embun dan daun. Namun kisah kita serupa pagi yang selalu bercahaya ketika mentari tiba di awal hari. Selalu saja ada kehangatan yang tiba-tiba menerpa persahabatan kita.

Kau tahu, berjilid-jilid kisah manusia telah dibukukan dalam berbagai buku cerita. Namun kita membukukan persahabatan dalam kenangan. Sebab ia tak akan pernah hilang atau terbakar. Mungkin ia hanya akan tercecer di setiap jalan setapak kehidupan yang kita lalui suatu hari nanti. Tapi jangan khawatir, kita masih bisa memungutinya kembali dengan menyusuri jejak-jejak yang membekas dalam ingatan. Bukankah kenangan itu serupa dangau persinggahan yang menggoda pengelana untuk berteduh sejenak, melepas beban perjalanan dan merenungi asal muasal langkah kakinya.

(SeuLanga 43. Perçin Evi, 03042012, 18.02)

Tumbuh di Jejakmu

Tumbuh di Jejakmu

Ran, pada jejak-jejak harianmu, aku ingin menanam puisi yang senantiasa bersemi. Biarkan ia tetap tumbuh meskipun kau telah berlalu ataupun berdiam di ladang jiwa seseorang yang menyemai benih-benih cinta.

Ran, ketika puisi bertunas dan setelah memekarkan makna, aku tidak akan pergi. Rinduku senantiasa menyirami tubuhnya hingga akar-akar kata menancap kuat, mungkin menjalar sampai ke hatimu.

Ran, makna puisi-puisi yang tumbuh di jejakmu selalu mekar dan bersinar di bawah tatapan purnama wajahmu, yang menyinari segenap asa ketika kau tersenyum dalam suka dan duka, yang membuat puisi-puisi itu merekah indah.

(SeuLanga 42. Menekşe Evi, 20092011, 14.07)

Jalinan Kita

Jalinan Kita

Ran, masih tersimpan sejuta rahasia di kedalaman makna sebuah kata. Tak mampu terbaca oleh mata.

Ran, masihkah embun-embun makna menyejuki dedaunan pohon kata di berandamu? Walaupun hanya sebentar? Percayalah, yang tumpah ruah dari kelopak matamu adalah embun-embun itu.

Ran, sebuah kata itu adalah “kita” yang telah ditulis di lembar-lembar kitab induk yang nyata. Sebuah pertemuan dan juga sebuah perpisahan yang telah dan akan memekarkan makna persahabatan. Maka, berbagilah dalam jalinan “kita”, suka maupun duka, untuk menyalakan lentera kata di lorong-lorong kelam kehidupan fana.

(SeuLanga 41. Eskişehir, 29072011, 10.38)

Pagi yang Berdebar

Pagi yang Berdebar

Ran, pagi yang hening tidak bisa memendam debaran ombak yang meriakkan rindu ke tepian pantai sajakku. Selalu ada namamu yang mengalunkan makna dari kata-kata yang terangkai, mempuisikan debar-debar rindu.

Ran, debaran ombak itu tidak mampu berlabuh ke tepian sebelum angin kesetiaan berhembus dari lembah hati kita. Aku tidak pernah menyangka kalau angin itu singgah di dahan pepohonan katamu sebelum meriakkan rindu di pantai sajakku.

Ran, sungguh pagi di sini berdebar. Embun-embun juga bergetar setelah membisikkan kata perpisahan kepada dedaunan yang menggigil kesejukan. Dan kata-kata tetap mendebarkan makna: “sebuah kebersamaan.”

(SeuLanga 40. Eskişehir, 27072011, 12.18)

Tersenyumlah Ran

Tersenyumlah Ran

Ran, tersenyumlah supaya muncul bulan sabit di langit malamku. Menemani kerlip gemintang yang berbagi cahaya rindu. Kemudian kudekap erat mimpi-mimpimu. Membiarkannya rebah dalam kuasa-Nya.

Ran, jika kau tersenyum, akan muncul bulan purnama penuh di langit malamku. Menerangi pepohonan kata yang aku tanam di berandamu. Kemudian dedaunannya meluruhkan makna. “Sebuah kesetian.”

(SeuLanga 39. Eskişehir, 19072011, 20.34)

Tersenyumlah Ran

Tersenyumlah Ran

Ran, tersenyumlah supaya muncul bulan sabit di langit malamku. Menemani kerlip gemintang yang berbagi cahaya rindu. Kemudian kudekap erat mimpi-mimpimu. Membiarkannya rebah dalam kuasa-Nya.

Ran, jika kau tersenyum, akan muncul bulan purnama penuh di langit malamku. Menerangi pepohonan kata yang aku tanam di berandamu. Kemudian dedaunannya meluruhkan makna. “Sebuah kesetian.”

(SeuLanga 39. Eskişehir, 19072011, 20.34)

Langkah-Langkahmu

Langkah-Langkahmu

: Nelly Jumiliensi Putri

Di celah-celah dedaunan rindu, kuhembuskan namamu, bidadari kecilku. Bawalah kerinduanku bersamamu. Kemanapun kaki lincahmu melangkah, ada doa yang kurangkai menjadi payung peneduh kelelahanmu.

Aku tidak akan menghitung berapa purnama telah berlalu, sementara rinduku menderu jauh ke tanah lembab, asal muasal dari langkah-langkah kecilmu. “Melangkahlah hingga tunas-tunas rinduku menguncup, memekarkan namamu”.

Ada yang menuntunmu, Bidadari kecilku. Yang selalu dekat denganmu. Mendekatlah kepada-Nya hingga langit dan bumi ikut memberikan keteduhan kepada langkah-langkah kecilmu. “A bright future is waiting for you”.

(SeuLanga 38. Eskişehir, 12072011, 12.12)

Langkah-Langkahmu

Langkah-Langkahmu

: Nelly Jumiliensi Putri

Di celah-celah dedaunan rindu, kuhembuskan namamu, bidadari kecilku. Bawalah kerinduanku bersamamu. Kemanapun kaki lincahmu melangkah, ada doa yang kurangkai menjadi payung peneduh kelelahanmu.

Aku tidak akan menghitung berapa purnama telah berlalu, sementara rinduku menderu jauh ke tanah lembab, asal muasal dari langkah-langkah kecilmu. “Melangkahlah hingga tunas-tunas rinduku menguncup, memekarkan namamu”.

Ada yang menuntunmu, Bidadari kecilku. Yang selalu dekat denganmu. Mendekatlah kepada-Nya hingga langit dan bumi ikut memberikan keteduhan kepada langkah-langkah kecilmu. “A bright future is waiting for you”.

(SeuLanga 38. Eskişehir, 12072011, 12.12)

Nyata

Nyata

Ran, kata-kataku menyapa. Adakah sapa yang bertemu dengan degup di keramaian sana?

Kemarin, jemari kupaksa menulis tentang debar yang berombak di tepi kerinduan. Tetapi imaji tidak melahirkan kata-kata. Kau tahu kenapa? Karena ini kisah nyata.

Ran, aku telah melupakan dedaunan yang kehijauan dalam puisi-puisiku dulu. Kau harus tahu kalau kata-kataku salah menamai makna sehingga aku memujanya. Ya, aku telah membohongi daun yang sempat hijau dalam kata-kataku. Kisah itu tidak nyata…..

(SeuLanga 37. Eskişehir, 04072011, 17.46)