Category: Uncategorized

Ingin Aku Menjauh dari Puisi tapi Aku Akan Kehilangan Kata-Kata untuk Menyapa Matamu ketika Kita Berjumpa Suatu Hari Nanti

Ingin Aku Menjauh dari Puisi tapi Aku Akan Kehilangan Kata-Kata untuk Menyapa Matamu ketika Kita Berjumpa Suatu Hari Nanti

Ingin aku menjauh dari puisi
berteduh di bawah naungan sunyi
bersimpuh di sudut-sudut sepi,
Tapi kata-kata telah menyuruhku pulang ke dalam mata kalian
yang terang membaca kehidupan.

Ingin aku menjauh dari puisi
berlabuh di pulau sepi
kemudian berteduh sendirian di bawah langit bulan juni agar diguyur hujan dan disambar kenangan.

Ingin aku menjauh dari puisi
tetapi kata-kata mengajakku bertamu ke dalam matamu,

lalu aku diam-diam bermalam di mata itu;
di bawah langit yang tak menyalakan gemintang
tapi bisa terang bercahaya,

apakah cahaya itu lelampu rindu?
yang hanya bisa dinyalakan dari kejauhan
dan dipadamkan dengan dekat sentuhan?

Di bawah langit yang tak memejam itu
aku terdiam;
ini mata menyihir malam lewat tatap sayunya
yang sorotnya menggapai ketinggian bulan
sehingga malam mulai menyulam benang-benang mimpi
sebagai selimut pagi yang mengabut di pucuk-pucuk daun muda yang baru saja mekar di puncak bukit sebuah daratan tinggi.

Di antara langit yang dihimpit perasaan-perasaan rumit;
ada gerimis. ada hujan. dan ada tangis perempuan.
Tapi tak akan kurelakan kau bersedih sendirian.

(STAR 949. Banten, 23112015, 20.03)

Jendela Kehidupan

Jendela Kehidupan

jendela kehidupan harus dibuka
meskipun perlahan-lahan
kadang-kadang ia berderit
menahan dorongan kemauan

biarlah ia terbuka
agar keindahan dunia
terintip dengan sempurna
hingga mata-mata ikut terbuka
tak selebar jendela biasa.

(STAR 484. Akyurt, 24012012, 17.02)

Sketsa Kerinduan (2)

Sketsa Kerinduan (2)

Sore yang menyilaukan taman
Menghangatkan udara beku
lewat tatapan gadis kecil itu
yang mengerjap-ngerjapkan mata beningnya
serupa telaga bermandikan cahaya

Ahh, cantiknya
Meskipun sekilas berlalu
seiring langkah lelahku yang menjauh
Ingin berteduh
untuk melukis sketsa kerinduan padamu, Nelli.

(STAR 423. Yıldırım Evi, 04122011, 15.59)

*aku merindukanmu, Adik manisku

Tanda-Tanda yang Tersebar

Tanda-Tanda yang Tersebar

Dalam rimba-Mu
hamba-hamba masih tersesat
Meskipun Engkau menumbuhkan tanda-tanda
yang tersebar sepanjang perjalanan,
sebagian berjatuhan dari pepohonan kata
yang ditulis oleh para pengembara pilihan-Mu
berupa buah-buah makna:
ranum dan melezatkan kehidupan fana.

(STAR 422. Yıldırım Evi, 01122011, 23.13)

Çınar

Çınar

/1/
Beliau membaca
lembaran kehidupan fana
dengan kaca mata taqwa

/2/
Mereka menulis aksara-aksara
penyuluh cahaya
setelah padamnya sinar dunia

/3/
Ohh, di Barla
Allah menumbuhkan çınar
yang bertasbih tiada henti
sebelum dan sesudah kepergiannya

(STAR 421. Hasköy, 30112011, 20.54)

Kerbau Loreng

Kerbau Loreng

Derap langkahnya mengetuk jalan
yang dirundung sepi berkepanjangan
Malam pun mencekam tak berkesudahan

Derap langkahnya adalah suara beruntun
yang membangunkan malam
Gelisah ia tak memejamkan mata
Mengintip peristiwa berdarah dengan purnamanya

Tak ada yang berani menghalau
segerombolan kerbau
yang bermoncong senapan laras panjang
yang berkubang dalam genangan darah manusia

(STAR 417. Bus 133, 26112011, 14.34)

Bediuzzaman (1)

Bediuzzaman (1)

Pada tahun seribu delapan ratus tujuh puluh tujuh:

Pegunungan Taurus menyaksikan
kelahiran “keajaiban zaman”
di sebuah rumah bebatuan
yang beratap jerami dan dinaungi pepohonan.

Said kecil telah lahir ke dunia,
di Desa Nurs. Ayahnya adalah Sufi Mirza,
suami Ibunda Nura.

(STAR 404. Yıldırım Evi, 19102011, 22.41)