Tag: Ibu

Sebetapa Hebatnya Ibuku

Sebetapa Hebatnya Ibuku

Ibu bisa mendengar kabar kerinduanku dengan sabar, dengan membesarkan langkah kakiku yang belajar menjelajah jauh, dan pasti kembali setelah lelah mengarungi perasaan yang asing.

Ibu bisa membisikkan doa dengan baik di antara suara-suara yang berisik mengusik perjalananku, sehingga doanya dipetik awan dan putik-putik hujan berjatuhan, memberi berkah pada langkah tujuanku.

Ibu bisa menemukan berbagai jawaban sebelum mulai mengajukan pertanyaan-pertanyaan tentang sunyi percakapanku, seperti hidangan makan malam yang diam-diam disiapkannya sebelum perutku berbunyi.

(STAR 1006. Banda Aceh, 27072017, 22.51)

Ah, Alangkah

Ah, Alangkah

:Ibu

Alangkah betahnya kata-kata itu tinggal di rumahmu, bisa berteduh dari jenuh perasaan, dapat bersembunyi dari sunyi percakapan.

Kata-kata adalah puisi yang tiba-tiba menerangi, adalah sajak yang seketika mengajakku mengunjungi.

Ah, alangkah rindunya aku padamu.

(STAR 1005. Banda Aceh, 27072017, 22.07)

Kerinduan yang Terpisah Jauh

Kerinduan yang Terpisah Jauh

:Ibu

jangan bersedih, Bu
seka air matamu yang jatuh
yang mengalir jauh ke wajah lelahku

Ibu, meskipun tak serumah kita
masih berteduh di bawah atap yang sama;
atap paling rindang, ya,
langit yang rindang itu membentang luas
demi menaungi kerinduan kita yang terpisah jauh

(STAR 887. Erkam Evi, 02082014, 23.14)

Rumah Bayangan

Rumah Bayangan

sia-sia menjauh dari kerinduan ini, Ibu

matahari terik siang ini melahirkan bebayang rumah yang menghadang langkah kakiku.

jangan khawatir Bu,
meskipun jauh aku masih punya rindu yang sama sebagai pintu masuk ke dalam rumah bayangan itu

dan tubuhku bisa berteduh dari penat yang sungguh sangat menyengat tanpa sentuhmu.

jangan khawatir, Bu
meskipun wajah langit cemas membiru,
aku selalu punya rindu
untuk pulang ke rumahmu setiap waktu.

(STAR 862. METU, 22052014, 18.40)

Alangkah Rindu Anakmu, Ibu

Alangkah Rindu Anakmu, Ibu

/1/
engkau biarkan aku membesarkan inginku
engkau biarkan tubuhku jauh dari rengkuhmu
agar aku bersungguh-sungguh merindukanmu, Ibu.

/2/
wahai dirimu yang berlayar seluas aku,
biarkan aku tenggelam dalam rasamu
meskipun aku tak mampu menyelam sedalam samudra kasihmu.

/3/
tak berkesudahan engkau meluruskan arah hidupku
sementara dengan tingkah salahku
aku terus menerus menambah kerutan gelisah di wajah lelahmu.

/4/
Ibu,
tak bosan-bosannya aku membaca guratan waktu di wajah tabahmu.

/5/
sekarang kita dipisahkan lautan.
kedua mata berpaling semu, saling tak temu, hanya tatap menatap di ruang rindu.

(STAR 808. Hisar Evi, 24122013, 12.34)

Dua Tiga

Dua Tiga

:20 Agustus 2013

/1/
seperti hujan yang berjatuhan
dan awan tak bisa menahannya lebih lama

seperti waktu yang tak mau menunggu
ketika menggugurkan dedaunan usiaku.

/2/
DaMar,
padam segala gelisah itu
setelah nyala matamu
menerbitkan matahari tepat pukul dua belas lewat empat malam tadi

dan aku seperti tertidur di tepian pantai
di bawah nyiur melambai
yang sangat jauh dari keriuhan
dan dari keterasingan.

/3/
puisi merayakan pergantian angka muda
yang selalu menua.

/4/
dan ada rindu yang sama
yang tak pernah berganti usia;
senantiasa muda
selalu mudah jatuh cinta.

/5/
sebenarnya langit tak berwarna

ia tetap terbentang meluas
ketika menerima biru sebagai warna kesedihan
dari matamu.

/6/
umur adalah sumur;
ia seperti terkuras habis
tetapi sebenarnya ia tak akan kekeringan selama-lamanya,
selama masih ada mata air jernih di dasarnya.

semoga saja ada musafir tua
ataupun seekor serigala
yang pulih dahaganya dari mata airku.

/7/
kenapa ulang tahun mesti dirayakan
dengan
menghitung maju
angka satu persatu?

dalam puisi ini
ada sebuah pesta
di mana siapa saja bebas berhitung mundur
dan boleh merayakan ulang tahun yang ke berapa saja.

/8/
Ibunda,
pelukmu selalu dekat dan hangat

kau telah menyalakan lelampu kerinduan
sepanjang jalan yang kutempuh dalam keterjauhan dan keterasingan
dua puluh tiga tahun lamanya.

/9/
kutitip rindu pepohonan pada hijau pegunungan,

mungkinkah ia menjatuhkan daun hijau mudanya
di telapak tanganku?

/10/
adalah kenangan
yang sering tersesat dalam ingatan

sia-sia kau lupakan.

/11/
dalam keheningan kita masing-masing
udara terus bicara
dan kita pura-pura tak mendengarnya

kita hanya menghirupnya
sebagai suguhan untuk berjeda
dari keramaian yang menyesakkan.

/12/
cinta tak pernah mengeluh
meskipun ia sering jatuh
dari mata ke hati,

barangkali itu bukan cinta;
mata yang tergoda dan salah bicara.

/13/
merayakan pergantian
tanpa ada perubahan;

sia-sia.

/14/
”di luar gerimis masih menari lincah”,
katamu

DaMar, barangkali ia sedang merayakan ulang tahunku
bersamamu.

/15/
aku menanggalkan detik demi detik
yang menahun
seperti gerimis yang menjadi rintik-rintik hujan.

/16/
meskipun dedaunan usia tanggal satu persatu
kuncup bunga itu tetap berganti gaun warna-warni
menghias musim semi
di sebuah kota yang sementara kutinggalkan
demi
(sebuah) kerinduan.

/17
di sudut ruang
cahaya remang
tanpa berbayang
sendiri, barangkali seperti aku yang mengenang
cahaya rembulan yang lebih terang.

/18/
lewat tengah malam usia menginjak
angka dua puluh tiga dan kutulis sebuah sajak
meskipun di luar anjing menyalak,

kau baca ia perlahan-lahan
lalu dadamu berdebar tak karuan
bukan sebab ketakutan
tapi karena rindu kita telah bersahutan.

/19/
sepotong rasa tak pernah berhenti berdebar
di kerinduan yang tak sebentar.

/20/
yang lebih dari sajak ini
adalah yang lebih pasti
seperti;

arti pertukaran angka yang silih berganti.

/21/
pernah aku kehilangan sebuah pagi
yang tak bernama

lalu aku menjadi seorang pemberani
yang membungkus matahari
sebagai permen berwarna cerah
untuk si gadis berbibir merah.

/22/
demi merampungkan bait-bait sajak ini
aku menyapa sepi
yang lain semacam hening yang tak bergeming
di reranting
pohon kata
yang pucuknya hijau senantiasa

sebab angin hanya berkisar dan tak benar-benar singgah untuk bersuara sebentar.

/23/
di bait terakhir
perayaan ini tak berakhir

sebab selalu ada pergantian
yang menggilir perubahan.

(STAR 770. Banda Aceh, 29082013, 22.26)

Rindu dan Sepasang Sayap

Rindu dan Sepasang Sayap

:Ibunda

/1/
serangkai kata
tak mampu mengurai rindu kita,
hanya doa
yang tak putus-putusnya
menyambung kerinduan kita, Ibunda.

/2/
rindu seperti ini tak mesti menjadi sebuah sajak
sebab kerinduan kita telah menyatu dalam jarak.

/3/
Ibunda,
sebelum malam memejamkan mata
aku ingin engkau tahu bahwa
”aku merindukanmu dalam keheningan kata
aku juga merindukanmu dalam keteguhan doa”

/3/
aku tak mau berandai-andai
tapi
jika aku menjadi kekupu pertamamu yang pergi
biarkan aku terbang meninggi
dengan sepasang sayap yang engkau pintal dengan benang kelembutan dan jarum ketulusan hati,
yang membuatku berani bermimpi.

(STAR 733. METU, 29042013, 11.07)

Muatan Rindu

Muatan Rindu

:Ibu

tadi malam Bu,
bus empat satu tujuh dari kampusku
dipenuhi muatan rindu
yang terlipat rapi dalam beragam koper besar itu
yang berdesakan dalam tas kecil punya si gadis di sebelahku
yang terselip pada saku celana serta baju
yang juga terjepit di dalam sepatu-sepatu.

Ibu,
bus empat satu tujuh yang melaju
menjauh dari kampusku
seperti bersenandung merdu
sebab sedang mengantarkan
mereka ke tempat pemberhentian
yang memberangkatkan segala jenis rindu
ke masing-masing pelukan.

tadi malam Bu,
bus empat satu tujuh dari kampusku
dipenuhi muatan rindu
yang berdesakan dan menyesakkan aku
sebab sesampainya di tempat pemberhentian
tak ada yang menjemput rinduku
hanya angin asing yang memeluk tubuhku.

Ibu,
bus empat satu tujuh yang melaju
menjauh dari kampusku
seperti merintih pilu
sebab ia menahan berat muatan rindu
yang tiba-tiba bertambah banyak di dalam hatiku.

(STAR 637. Yasir Evi, 20102012, 03.43)